IHSG Bergerak bak Roller Coaster, ke Mana Investor Harus Melangkah?
JAKARTA, investortrust.id – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) year to date (ytd) menunjukkan fluktuasi, bakan bergerak bak roller coaster. Pola pergerakan tersebut makin sering terjadi setelah Donald Trump di lantik menjadi presiden Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data pergerakan IHSG BEI ytd, indeks sempat mencapai level penutupan tertinggi level 7.257 pada 22 Januari 2025. Di sisi lain, IHSG sempat menyentuh level penutupan terendah 6.956 pada 14 Januari 2025. IHSG juga masih menunjukkan penurunan dari penutupan akhir tahun lalu level 7.079 menjadi 7.032 pada penutupan sesi I hari ini.
Apa yang memicu pergerakan IHSG bak roller coaster ytd? Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit menilai bahwa pergerakan IHSG seperti saat ini sudah diperkirakan semenjak 2024 saat memasuki tahun politik.
Baca Juga
BNI Sekuritas Kembali Proyeksikan IHSG Tembus 8.000 pada 2025
“Di awal tahun ini, pergerakan IHSG dipengaruhi oleh sentimen global, yakni kondisi geopolitik di Timur Tengah, meskipun sudah dilakukan gencatan senjata. Lalu kebijakan AS, kita ketahui bersama Presiden AS menerapkan kebijakan tarif impor untuk Meksiko, Kanada, dan China,” kata Didit saat dihubungi investortrust.id, Rabu (5/2/2025).
Meskipun Trump sudah mengumumkan penundaan kenaikan tarif impor dari Meksiko dan Kanada tetap saja masih memberi warna, karena ada ketidakpastian sampai kapan ditunda. Pergerakan indeks makin fluktuatif setelah China langsung merespons kebijakan AS melalui kenaikan tarif serupa.
“Laju indeks juga terpengaruh keputusan The Fed yang diproyeksikan cenderung hawkish, di mana FOMC Meeting kemarin bahwa The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya dan diperkirakan untuk jangka waktu yang cukup panjang sembari mencermati kondisi ekonomi AS,” terang Didit.
Komentar hal serupa diungkapkan Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas Reydi. Menurut dia, fluktuasi tinggi IHSG juga terpengaruh sentimen domestic, yakni kebijakan suku bunga yang berimbas terhadap laju IHSG tahun ini.
Baca Juga
Mirae Prediksi Total Dividen 2025 Capai Rp 322,4 Triliun, Lima Emiten Ini Terbanyak
Semenjak Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75%, dia mengatakan, investor memang sempat merespons positif. Namun respons tersebut berubah setelah The Fed mempertahankan tingkat suku bunga level 4,25% - 4,5%. “Namun kabar bahwa suku bunga BI akan kembali turun ke 5,5% pada akhir tahun 2025 bisa menjadi sentimen positif di pasar saham,” jelas Reydi.
Dia menilai bahwa fluktuasi IHSG dengan pola range sideways yang lebar diperkirakan berlanjut setidaknya sepanjang semester I-2025. Pasalnya, penyesuaian kebijakan-kebijakan pemerintahan baru baik di dalam maupun luar negeri masih terus berlangsung.
“Walau begitu dengan perkiraan inflasi yang terkendali, daya beli yang membaik, penurunan suku bunga BI, data ekonomi makro positif, dan kinerja emiten yang solid diharapkan menjadi pemicu positif bagi IHSG ke depan,” tuturnya.
Saham Pilihan
Di tengah kondisi demikian, dia mengatakan, pemodal disarankan untuk melirik saham sektor energi dan bahan baku seabgai pilihan saat ini. Pemodal jug disarankan untuk mendiversifikasi portfolio ke berbagai sektor untuk mengurangi risiko, seperti saham-saham bluechip yang berfundamental kuat.
“Kami menilai bahwa volatilitas tinggi awal tahun 2025 ini sebenarnya bisa dimanfaatkan pemodal, karena menciptakan peluang trading jangka pendek dengan frekuensi lebih sering,” ucap dia.
Analis Sucor Sekuritas Arief Putra dalam risetnya menyebutkan bahwa sejak dilantik pada 20 Januari, Trump langsung bersikap agresif malawan semua pihak mulai dari kenaikan tarif, deportasi imigrasi yang tak berdokumen lengkap, hingga keinginan untuk merebut terusan Panama.
Baca Juga
NH Korindo Rilis Saham Pilihan dari Berbagai Sektor, Saham Bank Papan Atas Masuk
Sejumlah kebijakan tersebut, terang dia, telah membuat IHSG anjlok lebih dari 3% sejak awal tahun dipicu atas penruunan saham bank papan atas seperti BBCA hingga BMRI.
Meski diselimuti beragam sentimen negatif, dia mengatakan, investor masih memiliki potensi cuan dari sejumlah saham. Yang jelas investor disarankan untuk mulai mengalihkan investasinya ke saham-saham yang terpengaruh terhadap mata uang dolla AS dengan fundamental kuat, seperti saham AADI, ADRO, TPMA, ENRG, PGEO, TINS, dan UNTR.
Sedangkan saham safe heaven yang bisa menjadi pilihan pemodal saat indeks fluktuatif saat ini, yaitu saham BBCA, HMSP, MYOR, ISAT, AMRT, dan JSMR. “Selama mata uang Rupiah melemah dan yield surat utang naik, IHSG dan saham bank diprediksi masih dalam tekanan,” tulisnya.

