Laba Diproyeksi Capai Target, Analis Sematkan Rating Beli Saham BBTN
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham bank pelat merah, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) berpotensi menguat, seiring proyeksi laba bersih bank yang diperkirakan mencapai Rp 3,3 triliun per akhir tahun 2023, atau tumbuh 10% secara year on year.
Berdasarkan konsensus, kinerja BBTN ditopang oleh perolehan Net Interest Margin (NIM) yang mencapai 4,0%. “ROE (Return on Equity) diperkirakan menyentuh angka 11,7% pada akhir 2023,” demikian dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/11/2023).
Dengan proyeksi tersebut, sebanyak 21 analis juga merekomendasikan beli untuk BBTN dengan rata-rata target price pada 12 bulan ke depan senilai Rp1.730 per lembar. Saat ini, saham BBTN diperdagangkan dengan valuasi 0,5 kali price to book value (PBV) untuk proyeksi kinerja tahun 2023 hingga 2024.
Baca Juga
Armada Berjaya (JAYA) Bagikan Dividen Interim, Simak Jadwal Berikut
Analis Yuanta Sekuritas Indonesia, Yap Swie Cu, dalam risetnya menyebut kinerja Bank BTN diyakini masih on track per kuartal III-2023. Salah satu penyumbangnya, lanjut Yap, yakni strategi kredit high-yield. “Kami menjaga rekomendasi beli untuk Bank BTN,” tulis Yap dalam risetnya yang dikutip Selasa (7/11/2023).
Senada, Head of Research Sucor Sekuritas, Edward Lowis, memproyeksikan BBTN masih akan mencatatkan laba bersih di level Rp 3 triliun pada akhir 2023. Salah satu penopang proyeksi tersebut yakni peningkatan kredit yang masih akan berlanjut di tahun ini dan mencapai pertumbuhan sebesar 10%. “Kami masih mempertahankan rekomendasi beli,” tulis Edward.
Sebelumnya, manajemen Bank BTN juga menilai hingga akhir tahun ini dapat menjaga pertumbuhan kredit di level double digit. Adanya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) menjadi penyumbang kinerja positif perseroan.
Baca Juga
Digital Mediatama (DMMX) Tambah Kepemilikan Saham Anak Usaha
Direktur Finance Bank BTN Nofry Rony Poetra menjelaskan lebih dari 90% portofolio KPR BTN masih didominasi oleh rumah dengan harga di bawah Rp 2 miliar, termasuk di dalamnya yakni segmen rumah murah. Selain fokus menyalurkan KPR Subsidi, Bank BTN juga intens menyasar KPR Non-Subsidi yang membidik segmen emerging affluent. Strategi tersebut dieksekusi dengan membuka 3 Sales Center di BSD, Kelapa Gading, dan Surabaya.
Selain itu, insentif selanjutnya yaitu pemberian Bantuan Biaya Administrasi (BBA) sebesar Rp 4 juta bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) saat membeli rumah subsidi. Pemerintah juga menaikkan batas harga rumah yang bisa dibeli MBR dan memperoleh pembebasan PPN menjadi Rp 350 juta, baik rumah tapak maupun rumah susun.
Menurut Nofry, hal ini akan menguntungkan Bank BTN, "Bank BTN merupakan kontributor utama dalam pembiayaan perumahan, khususnya KPR Subsidi dengan market share yang mencapai 83% untuk penyaluran KPR Subsidi". Dengan adanya insentif BBA ini akan meningkatkan potensi realisasi KPR Subsidi lebih banyak lagi kedepannya.
“Hingga Agustus 2023, kami mencatatkan portfolio KPR baik Subsidi maupun Non-Subsidi tumbuh double digit di atas 10%. Dengan ada insentif tersebut, kami optimistis tren pertumbuhan KPR masih berlanjut hingga akhir 2024,” ujar Nofry.

