Analis: Pemerintah Donald Trump bisa Bawa Konsekuensi Ini terhadap Bursa Saham Domestik
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah analis menilai indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung tertekan dan bergerak volatile selama pemerintahan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang resmi disumpah pada Senin (20/1/2025).
Sebagaimana diketahui Trump mengambil sumpah jabatan secara resmi memulai masa jabatan keduanya di Gedung Putih. Upacara pelantikan tersebut akan dimulai pukul 11:30 ET atau sekitar pukul 23.30 WIB.
Baca Juga
Trump Segera Dilantik, Harga Bitcoin Pecahkan Rekor Tertinggi Baru Usai Anjlok Pagi Ini
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit memperkirakan bahwa kebijakan yang akan diusung oleh Trump ke depan akan cenderung proteksionisme terhadap AS. Dengan adanya kebijakan tersebut, arus modal berpotensi balik ke AS dan mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara lain, khususnya Rupiah.
"Hal ini diperkirakan mempengaruhi pergerakan pasar Indonesia, di mana secara historikal dapat dicermati era Trump yang lalu membuat IHSG cenderung tertekan dan bergerak volatile di luar adanya pandemi Covid," kata Didit kepada investortrust.id Senin, (20/1/2025).
Selain itu, Didit memandang, dari sisi kebijakan perdagangan, Trump selalu menegaskan untuk meningkatkan tarif perdagangannya terutama dengan China. Hal ini akan menimbulkan efek domino berupa penurunan permintaan dan adanya inflasi, karena kenaikan harga barang-barang tersebut.
Baca Juga
Berbicara di Depan Massa Pra-Pelantikan, Trump Janjikan 'Hari Baru'
Sependapat dengan Didit, Analis Pasar Modal sekaligus Founder WH Project William Hartanto menilai pemerintahan Donald Trump kemungkinan akan menciptakan volatile pasar saham, mengingat di periode pertamanya Trump banyak membuat kebijakan yang meningkatkan ketidakpastian pasar.
"Hal yang sama diestimasikan bisa terjadi lagi, sehingga pergerakan IHSG akan mengalami volatilitas tinggi sebagai repons pelaku pasar terhadap pelantikan Trump. Trump juga bisa menciptakan berlanjutnya outflow dari pasar saham, karena pemerintahannya fokus pada kemajuan Amerika dan itu bisa membuat minat investor asing beralih kembali ke sana," ucap William kepada investortrust.id.
Ekonomi Global
Di sisi lain, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana, mengatakan kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS membawa implikasi yang luas bagi perekonomian global, termasuk dampak negatif signifikan terhadap Indonesia dan kawasan Asia, terutama China. Trump dikenal dengan pendekatan proteksionis yang ketat dan kebijakan perdagangan agresif, khususnya terhadap China, yang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.
"Jika Trump melanjutkan atau memperburuk perang dagang dengan China, ketegangan ini dapat mengganggu rantai pasok global, mengurangi permintaan komoditas, dan memengaruhi perdagangan internasional," ujar Hendra saat dihubungi investortrust.id Senin, (20/1/2025).
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya Bakrie: Indonesia Harus Antisipasi Kebijakan Donald Trump
Perang dagang yang berkepanjangan akan menekan pertumbuhan ekonomi China, yang berimbas pada negara-negara Asia lainnya yang bergantung pada ekspor ke China. Selain itu, kebijakan proteksionis Trump dapat memperkuat dolar AS, melemahkan Rupiah, meningkatkan biaya impor, menekan daya beli konsumen, dan memperburuk inflasi. Pada akhirnya dapat memaksa Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga, memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik.
Menurut Hendra, penurunan permintaan domestik di China dapat mengurangi pendapatan ekspor Indonesia dan memperburuk neraca perdagangan. "Ketidakpastian yang dihasilkan dari kebijakan perdagangan Trump bisa menyebabkan volatilitas pasar keuangan global, memicu keluarnya modal dari pasar negara berkembang, dan memperburuk situasi ekonomi di kawasan ini," terang dia.
Hendra menambahkan, dalam jangka panjang, negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, perlu mencari alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada AS dan China melalui diversifikasi pasar ekspor dan reformasi struktural domestik guna meningkatkan daya saing ekonomi dan menarik investasi asing langsung.

