Analis: Konflik Iran-Israel Bisa Picu Pelemahan Pasar Saham Domestik Pekan Ini
JAKARTA, investortrust.id - Serangan balasan Iran terhadap Israel dinilai dapat mendorong adanya turbulensi di pasar saham.
Analis Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus mengatakan, tekanan dari sisi geopolitik terutama di kawasan Timur Tengah akan berpengaruh negatif pada pergerakan rupiah dan pasar saham pada pekan ini.
“Tentu akan mengalami pelemahan,” ujar Nico pada investortrust.id, Senin (15/4/2024).
Ia melanjutkan, bahwa semua sektor akan terkena imbas dari konflik tersebut. Namun, ia menggaris bawahi sektor yang masih akan mencatatkan angka positif adalah sektor kesehatan dan energi atau yang masih berkaitan langsung dengan bisnis minyak.
Baca Juga
Pengamat Sebut Ketegangan Iran–Israel Tidak Berpengaruh Signifikan pada Harga Minyak Mentah
“Rupiah yang mengalami pelemahan akan membuat tekanan terhadap perusahaan yang bergerak di bisnis impor, namun akan menguntungkan bagi perusahaan yang memiliki bisnis ekspor,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nico menjelaskan bahwa adanya konflik tersebut akan menyebabkan penaikan harga minyak, yang akan memicu adanya inflasi, yang mana berimbas pada tingkat suku bunga tinggi yang akan bertahan lebih lama tahun ini, berbanding terbalik atas harapan bahwa, tahun ini tingkat suku bunga mengalami penurunan.
“Iran sebagai salah satu produsen minyak tentu akan memberikan pengaruh terhadap harga minyak, karena seperti kita ketahui (serangan balasan Iran ke Israeal) telah membuat harga minyak mengalami kenaikan baik itu Brent maupun WTI,” ungkap Nico.
Selain adanya konflik di Timur Tengah, Nico juga memaparkan bahwa kondisi ketenagakerjaan di Amerika dan inflasi Amerika yang mengalami kenaikkan juga akan menyebabkan potensi pemangkasan tingkat suku bunga The Fed kian mundur.
Baca Juga
Puncak Arus Balik Lebaran, Bandara SSK II Pekanbaru Dipadati Penumpang Hari Ini
Sebelumnya suku bunga The Fed diprediksi akan turun pada Juni 2024, namun atas berbagai kondisi tadi, prediksi penurunan suku bunga mundur menjadi September 2024. Kondisi ini akan turut menjadi sentimen pergerakan pasar saham.
Oleh sebab itu, ia mengatakan bahwa perang kemungkinan dapat memicu hiper inflasi global. Hal ini akan kembali pada sejauh mana mitigasi yang dilakukan oleh masing masing negara untuk meminimalkan kerugian yang terjadi akibat tingginya tensi geopolitik ini.
“Namun dengan bekal dari Covid sebelumnya, kita juga belajar untuk memperkuat daya tahan perekonomian masing masing negara,” pungkasnya. (CR-4)

