Usai BI Rate Dipangkas 25 Bps, Saham Bank BUMN Dipimpin BBRI Terbang
JAKARTA, investortrust.id – Saham bank BUMN terbang setelah Bank Indonesia (BI) memangkas BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Pengautan tertinggi dicatatkan saham PT Bank Rakyat Indoensia Tbk (BBRI).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga puku 15.00 WIB, Rabu (15/1/2025), saham BBRI melesat Rp 230 (6,05%) menjadi Rp 4.030, bahkan saham BBRI sempat menyentuh level Rp 4.050.
Baca Juga
Penguatan hampir serupa juga dicatatkan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNNI) sebanyak Rp 260 (6,30%) menjadi Rp 4.390. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga melesat sebanyak Rp 350 (6,48%) menjadi Rp 5.750.
Penguatan harga yang mengesankan juga melanda saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebanyak Rp 45 (4,29%) menjadi Rp 1,095 dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRIS) mengaut sebanyak Rp 80 (3%) menjadi Rp 2.750. Penguatan mengesankan juga dicatatkan saham bank kapitalisasi pasar (market cap) terbesar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp 200 (2,10%) menjadi Rp 9.725.
Baca Juga
BRI (BBRI) Sentuh Level di Bawah Rp 4.000 jelang Pembagian Dividen, Bagaimana Target Harganya?
Penguatan mengesankan tersebut terjadi setelah Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dalam rapat periode 14-15 Januari 2025 memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%.
"Berdasarkan asesmen menyeluruh dan proyeksi mengenai perekonomian di global maupun nasional tersebut, Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.
Baca Juga
Selain memangkas BI Rate di level 5,75%, BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga depost facility dan suku bunga lending facility. Perry mengatakan RDG BI periode Januari 2025 memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposit facility 25 bps ke level 5%. Sedangkan suku bunga lending facility juga turun 25 bps menjadi 6,75%.
"Keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya perkiraan 2025 dan 2026 yang terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1%, terjaganya nilai tukar rupiah yang sesuai fundamental untuk pengendalian inflasi dalam sasarannya," terangnya.

