Investor Asing Catatkan 'Net Buy' Rp 15,97 Triliun Sepanjang 2024
JAKARTA, investortrust.id - Investor asing mencatatkan nilai beli bersih atau net buy sebesar Rp 15,97 triliun sepanjang tahun 2024. Sementara itu, pada hari terakhir perdagangan BEI pada tahun 2024 (30/12/2024), investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp 759,38 miliar, demikian data Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada Senin lalu, net buy asing tertinggi di pasar reguler dicatatkan oleh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp 96,2 miliar, diikuti PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar Rp 34,5 miliar, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp 31,4 miliar.
Sementara itu, net sell asing tertinggi di pasar reguler dicetak oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 235,2 miliar, lalu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 127.4 miliar, dan diikuti sesama bank pelat merah lainnya PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang sebesar Rp 49,7 miliar.
Adapun, top leading movers emiten di hari yang sama adalah GOTO, AMMN, TPIA. Sementara top lagging movers emiten BMRI, BBCA, TLKM.
Baca Juga
Optimistis, Bos Samuel AM Sebut IHSG di 2025 Bisa Dekati Level 8.000
Angka nilai beli bersih tahun lalu meningkat dibandingkan pada tahun 2023, ketika investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp213,29 miliar pada penutupan perdagangan tahun 2023 (27/12/2024). Namun, sepanjang 2023, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp13,64 triliun.
Sementara itu, sepanjang tahun 2024, investor asing telah mencatatkan net sell sebesar Rp 23,60 triliun dan jumlah frekuensi sebesar 55,9 juta kali transaksi.
Menurut data BEI, sepanjang tahun 2024, pasar modal Indonesia mengalami pergerakan yang dinamis dengan pengaruh dari sisi domestik maupun global. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan mengalami perubahan sebesar 3,25% secara year-to-date pada level 7.036,57 pada Jumat (27/12).
Namun, sepanjang tahun 2024 data perdagangan mulai mengalami kenaikan dibandingkan akhir tahun lalu dengan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) berada pasar posisi Rp12,9 triliun. Data tersebut diikuti dengan volume transaksi harian di angka 19,9 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi harian mencapai 1,13 juta kali transaksi.
Baca Juga
Asing Net Sell Saham Rp 0,40 Triliun Senin, di SBN Rp 0,94 Triliun
Aktivitas perdagangan di sepanjang tahun 2024 juga mencatatkan beberapa rekor baru, yaitu pencapaian rekor tertinggi IHSG pada level 7.905,390 pada 19 September 2024, diikuti dengan rekor kapitalisasi pasar tertinggi yang mencapai Rp13.475 triliun pada hari yang sama.
Mengomentari kinerja bursa efek Tanah Air, Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen Agus B Yanuar menyampaikan, jika pasar saham Indonesia tak terganggu isu global yang mengakibatkan koreksi di bulan Desember 2024 lalu, sejatinya Indeks Harga saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bisa saja ditutup di level 7.400 – 7.500. Bahkan di tahun ini bisa terkerek mendekati level 8.000.
“Dengan EPS growth tahun ini sekitar 9%, saya rasa ada potensi untuk indeks bisa mendekati 8.000 tahun ini,” ujarnya di sela pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia, Kamis (2/1/2025).
EPS growth (Earnings Per Share Growth) adalah pertumbuhan laba per saham dari waktu ke waktu yang digunakan sebagai indikator kinerja keuangan perusahaan dan dihitung dengan membagi total laba bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar.
Keyakinannya berangkat dari sejumlah narasi tentang kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang diprediksi akan menerapkan kebijakan yang lebih soft di masa jabatannya, ketimbang saat ia memerintah di periode sebelumnya. Dipahami bahwa setiap kebijakan yang diterapkan oleh Amerika Serikat bakal berdampak pada hampir seluruh perekonomian negara-negara di dunia.
“Yang kita tunggu sebetulnya nanti setelah pelantikan Trump, bagaimana kebijakan yang akan dia tempuh, sebagian bilang akan lebih brutal dibanding sebelumnya, tapi sebagian narasi bilang mungkin dia akan lebih soft dan realistis,” tuturnya.

