IPO PGEO, Strategi Pertamina Group Menembus Market Cap US$ 100 Miliar
JAKARTA, investortrust.id - Initial public offering (IPO) PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) merupakan bagian dari rencana besar di Pertamina Group menembus market cap US$ 100 miliar.
Hal itu diungkapkan Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Nelwin Aldriansyah,dalam acara Talkshow Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2023 hari ke-2 di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (26/10/2023).
“Jika kita kilas balik, secara cash flow (PGEO) sehat company-nya, tapi secara struktur permodalan, sebelum IPO tidak terlalu ideal,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, bisnis panas bumi yang digeluti PGEO tergolong berisiko tinggi karena ada aktivitas eksplorasi. “Tidak ada bank yang memberi pinjaman, sehingga hampir seluruh kebutuhan investasi PGE dipinjami oleh perusahaan induk Pertamina (persero) dan terakumulasi hampir mencapai US$ 1 miliar,” terang Nelwin.
Baca Juga
Garap Energi Panas Bumi Way Rate, PGEO dan Chevron Dirikan Usaha Patungan
Sebelum IPO, Pertamina Geothermal terus memperbaiki komposisi permodalan. Cara yang ditempuh perusahaan dengan mengkapitalisasi return earnings, serta menempuh kebijakan debt to equity swap sebesar US$ 111 juta.
Setelah restrukturisasi pemodalan, perusahaan mulai menjajaki pinjaman perbankan, karena sudah mempunyai aset yang beroperasi. Dengan dukungan aset tersebut, sumber pembayaran pinjaman tidak lagi dari ekplorasi.
“Kita mendapat kepercayaan sindikasi perbankan bisa melakukan return earnings sampai dengan US$ 800 juta, sehingga pinjaman kita ke persero bisa dilunasi menjelang IPO, membuat PGEO menjadi independen serta sehat secara keuangan,” tegas dia.
Nelwin menambahakan, bisnis renewble energy yang digarap PGEO sangat mendukung rencana pemerintah menjadi net zero country pada tahun 2060. (CR-5)
Baca Juga
Ekspansi Kapasitas dan Kenaikan Harga Jual Listrik, Jaminan Prospek Pertamina Geothermal (PGEO)

