Bos BEI Puji Sentimen dan Berita Positif yang Dukung Bursa Malaysia
JAKARTA, Investortrust.id – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman menyoroti kestabilan bursa efek Malaysia atau Kuala Lumpur Stock Exchange (KLSE) yang relatif stabil tanpa terganggu oleh isu-isu negatif yang bisa mengakibatkan larinya para investor dari pasar modal negeri jiran tersebut.
Dipaparkan Iman dalam kesempatan Editor In Chief Gathering 2024 di Jakarta, Selasa (10/12/2024), saat ini KLSE telah menjadi bahan perbincangan investor dunia, karena Bursa Malaysia karena berita-berita positif melingkupinya. Kendati sejatinya pertumbuhan ekonomi Malaysia tidak lebih baik dari Indonesia.
“Itu ternyata karena berita-berita yang ada tentang Bursa Malaysia begitu adem. Ini kan semua otoritas bursa yang ada di dunia datang ke Malaysia dan (mereka melihat) berita media dan terkait bursanya tone-nya positif,” kata Iman.
Saat berkunjung ke event World Federation Exchange di Kuala Lumpur, beberapa waktu lalu, Iman juga mendapatkan keterangan dari otoritas setempat bahwa pemerintah Kerajaan Malaysia mendorong penuh Bursa Malaysia agar bisa berkinerja dengan baik, termasuk ikut menciptakan atmosfir dan informasi yang positif seputar kinerja bursa efeknya.
Baca Juga
Dalam kesempatan yang sama, Iman juga mengucapkan terima kasih pada pala pelaku industri media massa nasional, yang sebagian besar ikut mendukung kinerja BEI dengan memberikan tone positif pada informasi-informasi seputar bursa domestik.
Dan pada dasarnya, kata Iman, kinerja Bursa Efek Indonesia juga tak kalah mentereng dibandingkan bursa-bursa daham dunia. Dari jumlah perusahaan yang tercatat, kinerja BEI berada di urutan ketujuh dari bursa-bursa dunia. Sementara di ASEAN, BEI berada di posisi nomor satu, dengan tingkat pertumbuhan perusahaan yang listed sedikit lebih tinggi dari Malaysia,” kata Iman.
Dalam paparannya, Iman menyebut hingga Oktober 2024, sebanyak 938 perusahaan telah mencatatkan diri di BEI, dengan pertumbuhan sebesar 3,88%. Sementara Bursa Malaysia mencatatkan pertumbuhan 3,42%, dengan sebanyak 1.027 perusahaan yang tercatat di Bursa Malaysia. “Dan target kita akan mencapai 1.000 (perusahaan yang listed) di tahun depan,” imbuh Iman.
Dalam kesempatan yang sama, Iman menjelaskan bahwa pemodal asing masih mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 23 triliun sepanjang year to date (ytd), meskipun perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilanda sejumlah sentimen negatif yang datang dari dalam dan luar negeri. Sedangkan pemodal domestik menjadi penopang di tengah aliran dana asing ke luar yang ditunjukkan dari peningkatan nilai transaksi dan kepemilikan saham.
“Di tengah tekanan kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga, penurunan fundamental sejumlah perusahaan akibat kenaikan suku bunga, hingga kemenangan Donald Trump pada pemilu Amerika Serikat (AS), pemodal asing ternyata masih percaya yang ditunjukkan melalui net buy saham Rp 22,6 triliun dari awal tahun hingga 6 Desember,” ujarnya.
Aliran dana senilai Rp 22,6 triliun tersebut, menurut dia, menjadi barometer perekonomian Indonesia, selain foreign direct investment (FDI). Aliran dana tersebut menggambarkan bahwa investor asing masih memiliki minat tinggi berinvestasi di Indonesia. Di tengah aliran dana asing, pemodal domestik justru menggenjot transaksi menjadi sekitar 64% dan sisanya investor asing. Begitu juga dengan kepemilikan saham, investor domestik meningkat menjadi 54%, dibandingkan asing sekitar 46%.
