Ubah Skema Sewa Pesawat Jadi Ijarah, Saham Garuda (GIAA) Jadi Menjanjikan dengan Target Harga Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tengah gencar merestrukturisasi skema penyewaaan pesawat dari konvensional menjadi ijarah. Aksi ini berhasil menekan biaya penyewaan pesawat dan setidaknya sebanyak 10% dari total pesawat yang disewa perseroan telah menggunakan skema baru ijarah.
Perubahan skema penyewaan pesawat dari IFRS menjadi ijarah diprediksi berimbas positif terhadap neraca keuangan GIAA pada kuartal akhir tahun ini dan beberapa tahun mendatang. “Perseroan juga membidik sebanyak 50% dari pesawat yang disewa perseroan dengan skema ijarah, sehingga menguntungkan GIAA ke depan,” tulis analis Sinarmas Sekuritas Isfhan Helmy dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Baca Juga
Wamildan Tsani Panjaitan Ditetapkan Jadi Dirut Garuda Indonesia (GIAA) Gantikan Irfan Setiaputra
Sinarmas Sekuritas menyebutkan bahwa skema implementasi Ijarah bisa memberikan tambahan bagi pendapatan perseroan senilai US$ 150 juta dari satu lessor tertentu saja. Manajemen juga menyebutkan skema Ijarah yang sedang berlangsung beralih proses dengan lessor lain berjalan dengan baik dan berpotensi menghasilkan tambahan penghasilan luar biasa dalam dua bulan terakhir tahun 2024.
“Berdasarkan perhitungan kami, seharusnya sekitar 15 pesawat beralih ke skema sewa Ijarah tahun ini, yang akan membawa hasil pendapatan luar biasa sebesar US$ 225 juta tahun ini. Pendapatan luar biasa bisa jadi lebih besar lagi tahun 2025 dan 2026F berkisar US$ 375 juta dan US$ 300 juta, dengan asumsi sebanyak 50% armada dikonversi menjadi skema Ijarah,” tulisnya.
Melalui skema ini, menurut dia, perseroan bisa mencatatkan pendapatan luar biasa dalam jumlah besar dalam dan membuka peluang perseroan untuk mempercepat pembayaran obligasi. Saat ini, perseroan memiliki obligasi global senilai US$ 675 juta yang jatuh tempo pada tahun 2031.
Baca Juga
Garuda Indonesia (GIAA) Respons Positif Kelanjutan Satgas Penurunan Harga Tiket
Diproyeksikan kas yang dimiliki perusahaan akan mencapai US$ 725 juta pada 2025. Hal ini setidaknya memungkinkan pelunasan obligasi lebih awal pada 2026 dan perusahaan masih memiliki uang tunai berkisar US$ 100 juta.
“Kami memperkirakan Garuda akan membukukan ekuitas positif pada 2028 dengan laba ditahan negatif akan berkurang signifikan dari US$ 3,4 miliar pada 2023 menjadi hanya US$ 2 miliar pada 2028 dan diperkirakan turun mendekati US$ 1 miliar pada 2030,” terangnya.
Perubahan skema penyewaan pesawat tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham GIAA dengan target harga Rp 150. Target harga tersebut mempertimbangkan metode valuasi EV/EBITDA, yaitu GIAA baru dalam kisara 2,7 kali atau masih jauh di bawah rata-rata saham emiten penerbangan 3,5 kali.
Grafik Saham GIAA

