Antam (ANTM) Bidik Lompatan Penjualan Emas dan Nikel, Bagaimana Sahamnya?
JAKARTA, investortrust.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menargetkan volume penjualan emas dan bijil nikel agresif tahun 2024 dengan pertumbuhan masing-masing 38% menjadi Rp 36 juta ton dan 58% menjadi 18,5 juta ton.
Lompatan target volume penjualan tersebut akan mendorong arus kas kuat untuk mendanai sejumlah aksi korporasi ke depan. Sedangkan target target volume bijih nikel perseraon mencapai 20,7 juta ton tahun ini. Demikian penjelasan manajemen ANTM dalam Mandiri Investor Forum 2024 seperti diungkap riset Mandiri Sekuritas di Jakarta, pekan lalu.
Baca Juga
Volume Penjualan Bijih Nikel akan Melesat, Target Saham Antam (ANTM) Direvisi Naik
Analis Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan dan Vanessa Taslim mengatakan, manajemen ANTM juga mengungkap target volume produksi bijih nikel sebanyak 20,7 juta wmt tahun ini atau bertumbuh 54% dari perolehan tahun lalu. Sedangkan produksi FeNi diperkirakan naik tipis menjadi 22 ribu ton.
Begitu juga dengan penjualan emas ditargetkan tumbuh pesat 38% menjadi 36 juta ton tahun ini. Manajemen ANTM melihat ada peluang peningkatan permintaan emas tahun ini, meskipun harga jual komoditas ini menunjukkan peningkatan signifikan. Guna mendongkrak penjualan tersebut, perseroan menargetkan penambahan lima gerai penjualan emas baru dan menambah lebih banyak lagi ATM emas, serta meningkatkan utilisasi aplikasi perdagangan emas.
Baca Juga
Begini Target Saham Antam (ANTM) Usai Tuntaskan Divestasi Dua Anak Usaha
Terkait performa perseroan tahun 2023, Mandiri Sekuritas melaporkan, produksi bijih nikel Antam meningkat menjadi 13 juta ton dengan penjualan mencapai 11,7 juta ton atau naik 67%. Sedangkan biaya penambangan nikel (cas cost) bertahan pada level US$ 19-20 per ton dengan rata-rata harga jual US$ 47 per ton.
Tahun lalu, Mandiri Sekuritas menyebutkan, Antam mulai mengalihkan sumber energi dari pembangkit listrik tenga uap (PTLU) batu bara miliknya ke jaringan PLN. Perseroan telah mengamankan kontrak energi dengan PLN berjangka waktu 15 tahun. Langkah ini diharapkan menekap biaya bahan bakar mencapai 20% per tahun.
Sejumlah faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk memberikan rekomendasi beli saham ANTM dengan target harga Rp 2.000. Saham ANTM menjadi pilihan menarik untuk jangka panjang dengan prospek pertumbuhan didukung pembentukan perusahaan patungan dengan CBL untuk mempercepat monetisasi cadangan nikel perseroan.
