Blockchain dan AI: Solusi Baru Lawan Pemalsuan Identitas di Airdrop Kripto
JAKARTA, investortrust.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat telah meningkatkan tantangan dalam membedakan manusia dari bot di dunia maya. Internet kini dipenuhi oleh deepfake dan bot AI yang berpura-pura menjadi manusia, memicu kekhawatiran terkait pemalsuan identitas.
Melansir Cointelegraph, Rabu (23/10/2024), tantangan ini tidak hanya berdampak pada media sosial, di mana sekitar 5% hingga 15% akun di X (dulu Twitter) diduga bot, tetapi juga pada game daring dan airdrop kripto.
Airdrop kripto sendiri merupakan distribusi gratis token atau koin kripto kepada sekelompok orang tertentu, biasanya sebagai bagian dari promosi proyek blockchain atau kripto baru.
Bot digunakan untuk menjalankan aktivitas palsu dalam game, termasuk menambang atau memalsukan partisipasi dalam airdrop kripto. Dalam beberapa kasus, bot mudah dikenali karena perilakunya yang repetitif, namun teknologi AI kini semakin canggih hingga sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.
Baca Juga
Penelitian dari University of Waterloo menunjukkan bahwa orang kesulitan mengenali wajah palsu yang dihasilkan AI, dengan tingkat keberhasilan hanya 61%. Untuk mengatasi masalah ini, sejumlah proyek berbasis blockchain sedang mengembangkan solusi guna memberikan “bukti kemanusiaan”.
Holonym, misalnya, menggunakan sistem “kunci manusia” yang memanfaatkan data biometrik untuk memastikan identitas asli pengguna. Proyek lain seperti civic menggunakan verifikasi video untuk mengkonfirmasi keunikan seseorang, sementara proof of humanity memadukan verifikasi sosial dan video guna mencegah pemalsuan identitas.
Namun, penggunaan biometrik untuk verifikasi menimbulkan kekhawatiran soal privasi. Banyak pengguna khawatir data pribadi mereka disimpan oleh perusahaan besar. Untuk mengatasi hal ini, Holonym menyimpan sebagian besar data di perangkat pengguna guna menjaga privasi mereka.
Baca Juga
Teknologi verifikasi identitas ini juga mulai diterapkan di sektor lain, termasuk politik. Selama kampanye calon presiden Andrew Yang pada 2020, sistem berbasis blockchain memungkinkan donasi anonim secara legal dengan verifikasi tempat tinggal penduduk Amerika Serikat (AS). Ini menunjukkan bahwa teknologi ID digital berbasis blockchain memiliki potensi besar untuk diaplikasikan di berbagai sektor, termasuk Pemilu dan pengelolaan pengungsi.
Proyek Holonym saat ini tengah berupaya membantu pengungsi Rohingya dengan menyediakan sistem verifikasi identitas yang memungkinkan mereka mengakses infrastruktur perbankan dan keuangan. Dengan dukungan dari berbagai organisasi internasional, teknologi ini bisa menjadi langkah awal dalam memberikan akses layanan vital kepada para pengungsi.
Secara keseluruhan, blockchain dan teknologi ID digital menawarkan solusi penting dalam memerangi pemalsuan identitas dan melindungi privasi, sekaligus berpotensi mengatasi tantangan di era digital yang semakin kompleks.

