Berbagai Sentimen Dukung Harga Emas Menyentuh Titik Tertingginya
JAKARTA, investortrust.id - Harga emas meningkat didukung oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian seputar pemilihan umum Amerika Serikat, serta pelonggaran ekspektasi kebijakan moneter dari Federal Reserve pada pertemuan mendatang.
Mengutip Bloomberg.com Senin, (21/10/2024), pukul 13.10 WIB terpantau harga emas dunia di pasar spot naik 2,52 poin (0,09%) ke posisi US$ 2.723 per troy ons.
Menurut riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX), Senin (21/10/2024), sebelumnya Bank sentral AS menurunkan suku bunganya untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat tahun terakhir pada pertemuan bulan September.
“Selain itu, bank-bank sentral tampaknya mempercepat siklus pelonggaran moneter mereka dengan mengikuti pemangkasan tingkat suku bunga,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Presiden Federal Reserve Bank Atlanta Raphael Bostic pada hari Jumat menyatakan perlunya pengurangan suku bunga kebijakan bank sentral menjadi antara 3% dan 3,5% pada akhir tahun depan, sebuah langkah yang akan menurunkan inflasi. Targetnya sebesar 2% pada saat itu dan menjaga perekonomian AS keluar dari resesi.
Di sisi lain yang dapat menekan kinerja emas datang dari rilisnya ekonomi China yang lesu. Ekonomi China tumbuh pada kuartal ketiga dengan laju paling lambat sejak awal tahun lalu. Biro Statistik Nasional melaporkan pada hari Jumat bahwa PDB berekspansi 4,6% (year on year/yoy) di kuartal III 2024 dibandingkan 4,7% sebelumnya.
Baca Juga
Riset ICDX menunjukkan harga emas menurun dengan support saat ini beralih ke area US$ 2.630 dan resistance terdekat berada di area US$ 2.685. Sementara support terjauhnya berada di area US$ 2.580 - US$ 2.540, sedangkan resistance terjauhnya berada di area US$ 2.720 US$ 2.755.

