Goldman Sachs Nilai Harga Kripto Mungkin Sudah Menyentuh Titik Terendah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Goldman Sachs menilai harga aset kripto kemungkinan telah mencapai titik terendah setelah mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Proyeksi itu menandai perubahan nada yang lebih konstruktif dari salah satu institusi keuangan paling berpengaruh di Wall Street terhadap pasar aset digital.
Dalam catatan analisnya, Goldman menyebut pelemahan harga kripto belakangan ini secara umum telah mendekati rata-rata historis penurunan dari puncak ke titik terendah pada siklus sebelumnya. Analis Goldman, James Yaro, juga menilai valuasi perusahaan-perusahaan terkait kripto mulai terlihat lebih menarik, terutama emiten yang tidak terlalu bergantung langsung pada pergerakan harga aset kripto.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Goldman tetap mempertahankan rekomendasi beli pada sejumlah saham terkait kripto seperti Robinhood, Coinbase, dan Figure Technology Solutions. Sebelumnya, pada awal Januari 2026, Goldman juga menaikkan peringkat saham Coinbase menjadi beli dari netral, yang saat itu ikut mendorong kenaikan harga saham bursa kripto tersebut.
Melansir CNBC internasional, Kamis (26/3/2026), perubahan sikap Goldman terhadap aset digital juga tercermin dari eksposurnya yang semakin besar ke ETF kripto. Dalam pengajuan Form 13F kuartal IV-2025, Goldman mengungkap eksposur sekitar US$ 2,36 miliar ke ETF Bitcoin dan Ethereum. Di sisi lain, CEO Goldman Sachs David Solomon pada Februari 2026 juga mengakui bahwa dirinya memiliki sejumlah kecil Bitcoin secara pribadi.
Baca Juga
Anak Menkeu Purbaya Prediksi Bitcoin Bisa Tembus US$ 80.000 di April - Mei
Optimisme serupa juga datang dari Bernstein. Firma tersebut menyatakan Bitcoin kemungkinan sudah mencapai dasar siklus dan dapat naik ke US$ 150.000 pada akhir 2026, didorong oleh semakin besarnya peran investor institusional dalam pasar.
Meski demikian, nada Goldman tetap cenderung hati-hati. Penggunaan frasa “mungkin telah mencapai titik terendah” menunjukkan bahwa bank tersebut belum melihat pemulihan pasar sebagai sesuatu yang pasti. Dengan kondisi makroekonomi global yang masih rapuh, arah pasar kripto dalam beberapa pekan ke depan dinilai akan sangat bergantung pada apakah minat beli institusional benar-benar berlanjut.
Menilik data Coinmarketcap, Jumat (27/3/2026) pukul 08.20 WIB harga Bitcoin (BTC) terpantau melemah dalam perdagangan 24 jam terakhir. BTC berada di level US$ 68.809 atau turun 3,38% dalam sehari.
Pelemahan harga tersebut turut menekan kapitalisasi pasar Bitcoin menjadi sekitar US$ 1,37 triliun, turun 3,4%. Meski demikian, aktivitas perdagangan justru meningkat, tercermin dari volume transaksi 24 jam yang mencapai US$ 38,99 miliar, naik 10,88%.
Pergerakan grafik harian menunjukkan Bitcoin sempat berada di kisaran US$ 71.210 sebelum melanjutkan tren penurunan secara bertahap hingga menyentuh area US$ 68.000. Menjelang akhir periode perdagangan, harga sempat mengalami pemulihan terbatas, namun masih bertahan di zona merah.
Baca Juga
Goldman Sachs Masuk Jajaran Bank AS dengan Eksposur Kripto Terbesar
Data yang sama juga menunjukkan rasio volume terhadap kapitalisasi pasar (vol/mkt cap) Bitcoin berada di level 2,82%, sementara valuasi terdilusi penuh (fully diluted valuation/FDV) tercatat sekitar US$ 1,44 triliun.
Dari sisi pasokan, total suplai Bitcoin saat ini tercatat sekitar 20 juta BTC, dengan suplai maksimum tetap 21 juta BTC. Adapun jumlah pasokan yang beredar juga berada di kisaran 20 juta BTC, sedangkan kepemilikan treasury holdings tercatat sekitar 1,17 juta BTC.
Koreksi harga yang terjadi di tengah kenaikan volume perdagangan mengindikasikan masih tingginya aktivitas jual beli di pasar. Pelaku pasar kini mencermati apakah level US$ 68.000 akan menjadi area penopang baru atau justru membuka ruang pelemahan lanjutan dalam jangka pendek.
