Prospek Cerah, Simak Saham Sektor Perindustrian yang Masih Undervalued
JAKARTA, investortrust.id - Saham sektor perindustrian mencatat penguatan sebesar 0,32%, pada penutupan perdagangan, Jumat lalu (11/10/2024). Penguatan tadi sejalan dengan gerak rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Melihat optimisme pelaku pasar pada saham perindustrian, tim litbang investortrust.id menyajikan 10 saham yang masuk kategori sebagai saham yang diperdagangkan dengan nilai yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya atau undervalued.
Diantara 10 saham tersebut, pilihan teratas ditetapkan pada saham PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) dan PT Astra International Tbk (ASII). Keduanya dinilai memiliki kinerja yang solid.
Baca Juga
Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat, Prabowo Dorong Hilirisasi Komoditas
Pada perdagangan Jumat lalu (18/10/2024), saham MLIA memiliki price earning ratio (PER) 4,80 kali dan price to book value (PBV) 0,47 kali. Sedangkan saham ASII memiliki PER sebesar 6,18 kali dan PBV sebesar 0,81 kali.
Selain itu, saham-saham sektor perindustrian yang juga masuk dalam kategori undervalued adalah saham IKAI, ARKA APII, AMFG, IKBI, JECC, SPTO, dan DYAN.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Soekarno Alatas mengatakan bahwa saham masuk ke dalam kategori undervalue, sebab PER yang di bawah rata-rata industri, kemudian PBV dibawah 1-2 kali atau rata-rata industri.
Tim riset Stockbit menilai bahwa prospek pemangkasan suku bunga dapat memberikan dorongan lebih terhadap penjualan otomotif ke depannya, terutama pada segmen motor.
Baca Juga
Bahlil Buka Suara soal Perkembangan Tambah 10% Saham di Freeport
Sementara saham emiten industri otomotif PT Astra International Tbk (ASII) belum menemukan momentum titik balik, terpantau ditutup melemah 30 poin (0,61%) ke level 4920 pada perdagangan Jumat lalu.
PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 15,85 triliun pada semester I-2024. Keuntungan tersebut turun dari pencapaian periode sama tahun lalu Rp 17,44 triliun. Penurunan laba tersebut sejalan dengan pelemahan pendapatan perseroan dari Rp 162,39 triliun menjadi Rp 159,96 triliun.
Adapun, PT Astra International Tbk (ASII) menetapkan dividen interim tahun buku 2024 senilai Rp 3,96 triliun. Total dividen tersebut merefleksikan Rp 98 per saham.
Sedangkan pada periode September 2024, PT Astra International Tbk (ASII) mencatat jumlah penjualan mobil sebanyak 40.096 unit. Sementara, penjualan mobil nasional secara wholesales (pabrik ke dealer) pada periode yang sama sebesar 72.667 unit. Angka penjualan tersebut menunjukan bahwa pangsa pasar perusahaan raksasa nasional ini mencapai 55%.
Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, saham emiten manufaktur kaca yang sahamnya dikuasai oleh Eka Tjnadranegara, adik Djoko Tjandra, PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) ditutup menguat 4 poin (1,16%) ke level 348. Sementara itu, sepanjang semester I-2024, penjualan MLIA tercatat turun menjadi Rp 2,08 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 2,30 triliun.
Hal yang sama melanda total laba periode berjalan yang turut melemah menjadi Rp 173,62 miliar dari Rp 256,42 miliar pada semester I-2023. (CR-4)

