Masih Dianggap 'Undervalued', Simak Target Harga Saham MEDC dan WINS
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) termasuk ke dalam kategori saham sektor minyak dan gas yang harga sahamnya terbilang murah (undervalued).
Berdasarkan data Litbang investortrust.id, saham MEDC memiliki price to earning ratio (PER) sebesar 4,81 kali dan price to book value (PBV) sebesar 0,81 kali. Di lantai bursa, pada penutupan Jumat lalu (10/1/2025) perdagangan saham MEDC ditutup ke Rp 1.120.
Sementara nilai PER saham WINS tercatat 4,59 kali serta PBV sebesar 0,67 kali. Saham WINS pada perdagangan Jumat kemarin, (10/1/2025) ditutup di level Rp 400.
Selain kedua saham di atas, sejumlah saham-saham sektor energi lainnya yang masuk ke dalam kategori unvervalued antara lain ADRO, AADI, ABMM, KKGI, FIRE, IATA, TPMA dan BSSR.
Menurut riset Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Naura Reyhan Muchlis, OPEC+ telah mengakui kelemahan yang sedang berlangsung di pasar minyak dan sekali lagi menunda rencananya untuk menaikkan produksi sebesar 2,2 juta barel minyak per hari.
"China juga sedang mengalami pergeseran struktural dalam permintaan gasoil karena penjualan kendaraan listrik yang mencapai rekor pada Juli 2024 dan substitusi bahan bakar gasoil alat berat dengan LNG, yang menyumbang sekitar 22% dari permintaan minyak olahan China," tulis riset mereka dikutip Minggu, (12/1/2025).
Selain itu, produksi minyak Amerika Serikat menguat mencapai lebih dari 13 juta barel minyak per hari dan diperkirakan akan terus berlanjut setelah Trump menjabat pada Januari 2025, ketika kebijakan pro-minyak diperkirakan akan diumumkan.
Baca Juga
Saham Sektor Properti Naik 0,88%, Simak Sejumlah Saham Undervalue Ini
Dari laporan bulanan terbaru International Energy Agency (IEA), permintaan minyak diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,1 juta barel minyak per hari menjadi 103,9 juta barel minyak per hari pada tahun anggaran 2025. “Terutama didorong oleh India dan langkah-langkah stimulus yang mendukung pemulihan ekonomi China,” jelas riset mereka.
Di sisi lain, IEA memperkirakan pasokan minyak akan tumbuh sebesar 1,9 juta barel minyak per hari menjadi 104,8 juta barel minyak per hari pada tahun anggaran 2025, tidak termasuk penghentian pasokan OPEC+. Berdasarkan perkiraan ini, IEA memperkirakan pasar minyak pada tahun anggaran 2025 akan mengalami surplus sebesar +900 ribu barel minyak per hari.
“Sedangkan dari domestik, pada bulan Agustus 2024 lalu, Kementerian ESDM menerbitkan peraturan menteri No.13/2024 tentang PCS bagi hasil kotor, menggantikan peraturan tahun 2017 untuk menarik lebih banyak investasi migas dengan menyederhanakan persyaratan proyek serta meningkatkan porsi bagi hasil kotor bagi kontraktor,” ulasnya.
Baca Juga
Simak Top 10 Saham Undervalued Sektor Energi, Ada AADI, ADRO, dan MEDC
Lebih lanjut, SKK Migas telah mengumumkan 15 proyek hulu migas yang akan mulai beroperasi pada tahun anggaran 2025 dengan potensi produksi sebesar 191 kilo barrel per day (kbpd). Upaya pemerintah ini ditujukan untuk mencapai produksi nasional sebesar 1 mbpd dan 12 miliar standar kaki kubik per hari (bscfd) pada tahun 2030.
Mengacu pada sentimen di atas, Timothy Wijaya dan Naura Reyhan Muchlis berpandangan untuk menurunkan peringkat sektor migas menjadi Netral, karena turunnya asumsi harga minyak menjadi US$ 75 per barel pada tahun 2025.
"Atas dasar surplus yang diharapkan karena konsumsi China yang lemah, lalu ancaman pasokan tambahan dari OPEC+ mulai April 2025, dan ancaman produksi minyak yang lebih kuat dari AS menyusul agenda Trump untuk mengurangi biaya energi," paparnya.
Dengan ini BRI Danareksa menetapkan rekomendasi beli (buy) saham WINS dengan target harga baru Rp 610 per saham. Sementara saham MEDC juga direkomendasikan buy dengan target harga baru Rp 1.400 per saham.
"Karena WINS akan melihat tingkat utilisasi yang lebih tinggi di tengah permintaan eksplorasi yang lebih kuat, sementara MEDC dihadapkan pada stagnasi produksi di tengah penurunan harga minyak dan kontribusi anak usahanya, Amman Mineral (AMMN) yang lebih rendah dapat merugikan laba di awal tahun 2025," terangnya.

