Banyak Investor Pemula Ingin Jadi Warren Buffet atau Elon Musk
JAKARTA, Investortrust.id - Namanya telah cukup lama malang melintang di industri portofolio investasi dan pasar modal di Tanah Air. Pria yang menggenggam gelar MBA dari Sri Sathya Sai Institute of Higher Learning (Deemed University) di Prashanthinilayam, India ini telah ikut mengembangkan industri reksa dana di Indonesia, dengan jejak yang terekam di sejumlah institusi investasi regional maupun global.
Sebelum dipercaya menjadi orang nomor satu di PT Principal Asset Management (Principal Indonesia) pada Agustus 2023 lalu, Naresh sempat duduk sebagai Direktur Partnership Distribution untuk AIA Financial Indonesia serta berbagai posisi kepemimpinan senior di Indonesia, Filipina dan Hong Kong untuk Manulife Indonesia, Sun Life of Canada, Sun Life Grepa Financial dan Sun Life Financial Asia.
Investortrust.id berkesempatan berbincang-bincang dengan pria yang sangat antusias bicara soal edukasi dan disseminasi produk investasi bagi para investor pemula. Naresh juga mengungkapkan rasa takjubnya dengan jumlah investor ritel Indonesia yang kini bertumbuh sangat pesat, “Thanks to technologydan para distributor,” ungkapnya soal jumlah SID yang kini mencapai 12 juta. Sebuah angka yang menurutnya baru bisa dicapai setelah ia berkecimpung di dunia investasi selama 25 tahun di Indonesia.
Baca Juga
Principal Asset Management Tawarkan Solusi Diversifikasi Investasi di 2024
“Bisa dibayangkan, saya datang ke Indonesia pada tahun 1997 danselama 10 tahun maksimal nasabah yang kita miliki di industri ini total 300 ribu. Jadi dulu kami mengelola dana nasabah, dan kami hanya memiliki 20 ribu nasabah ritel,” ujarnya.
Namun demikian ia menyoroti sebagian besar motif investor baru di pasar modal yang berbasis spekulasi karena belum memiliki pemahaman yang baik soal produk investasi, khususnya yang terkait dengan pasar modal. Sebagian besar, kata pegiat olah raga golf ini, para investor masuk ke instrumen pasar modal didasari oleh unsur spekulatif, dan keinginan cepat kaya lewat pasar modal.
“Mereka semua tertarik karena mereka ingin menghasilkan uang dengan cepat, ya itulah sebabnya mereka beralih ke kripto dan semua pembelian (produk pasar modal) atas dasar spekulasi.Semua orang ingin menjadi Warren Buffet atau Elon Musk dengan cara cepat,”kata Naresh seraya tertawa.
Dalam kesempatan bincang-bincang ini, Naresh yang didampingi Head of Investment-nya Marli Sanjaya, dan Head of Product & Communication Anita Haryani juga membagi wawasannya soal horison investasi di tahun 2024, di tengah pelaksanaan pemilu, serta sejumlah tantangan global.
Rekomendasi produk terbaik di tahun ini pun ia share, sebagai bagian dari upaya mendidik para investor, termasuk rencana Principal AM untuk melansir sejumlah produk reksa dana di tahun ini. Untuk lengkapnya, simak perbincangan Fajar Widhiyanto dan Yuswialdyth Ardelia Almira dengan Presiden Direktur PT Principal Asset Management, Naresh Krishnan.
Baca Juga
Bagaimana Anda memandang tahun 2024, apakah bisa beripeluang yang baik untuk investasi di pasar modal?
Sebelum bicara soal peluang di 2024, penting untuk bicara soal tahun 2023 ketika kita optimistiskarena dunia akan mengalami pemulihan pascapandemi Covid-19. Semua orang berharap pertumbuhan Chinalebih baik pascapandemi sehingga dapat mendukung pertumbuhan di kawasan. Kelemahannya adalah, ternyata China tidak seperti yang diharapkan semua orang dalam hal pertumbuhan ekonomi, agar berkontribusi terhadap perekonomian global.
Kelemahan lainnya tentu saja adalah krisis Eropa yang terus berlanjut sepanjang tahun 2023, perang antara Ukraina dan Eropa, sehingga rantai pasokkomoditasmelemah. Ditambah lagi di Timur Tengah ada konflik Israel di Gaza yang juga menimbulkan banyak kekhawatiran.
Ujungnya, drama terbesar bagi dunia adalah kenaikan suku bunga The Federal Reserve akibat tingginya tingkat inflasi.
Namun, memasuki 2024 kami melihat sinyal dovish dari The Fed sejak Desember. Tingkat suku bunga telah mencapai puncaknya. Fokusnya bukan lagi apakah kenaikan bunga bisa berlanjut, tetapi menjadi kapan suku bunga akan turun dan berapa banyak penurunannya. Jelas perubahan ini akan mendorong sentimen positif di tataran global.
Apa yang mendorong optimisme di tahun 2024?
Skenario optimis kami didasarkan perspektif AS dibanding perspektif China, dengan skenario penurunan suku bunga. Kelas aset yang disukai tentu saja pendapatan tetap (fixed income). Begitu suku bunga Fed mulai dipotong, danbank sentral kita mulai menindaklanjutinya, maka kita akan melihat limpahan dana masuk ke mata uang dan juga ke pasar ekuitas. Tentu saja ada beberapa asumsi penting yang mesti diperhatikan misalnya tensi geopolitik yang tidak memburuk, tensi politik domestik yang stabil di AS, Indonesia dan banyak negara lainnya yang memasuki periode pemilu.
Seberapa benar aset fixed incomejadi instrumenpaling menguntungkan tahun ini?
Kalau kita lihat dari obligasi pemerintah, imbal hasiluntuk obligasi 10 tahun kita mendapatkan hampir 6,7% sementara inflasisekarang di bawah 3%. Jadi bunga riil yang kita peroleh hampir 3,7%. Ini adalah keuntungan yang sangat menarik. Jika masyarakat tidak nyaman dengan volatilitas daningin bermain aman, rekomendasi kamibagi investoruntuk berinvestasi pada reksadana obligasi pemerintah, karena imbal hasil (yield)sangat menarik.
Apa yang akan didapat investor dari reksa dana fixed income?
Jika Anda berinvestasi pada obligasi hari ini, bukan hanya kupon suku bunga yang kita peroleh, tetapi jika The Fed terus menurunkan suku bunga, secara otomatis hal tersebut akan mendukung Rupiah Indonesia dan itu berarti masyarakat akan mulai berinvestasi di Indonesia, dan itu berarti akan mendukung Bank Indonesia menurunkan suku bunga. Oleh karena itu, jika investor memiliki dana lebih, maka berinvestasi di obligasi bisa sangat menguntungkan dengan risiko yang rendah. Reksa dana obligasi akan menjadi tempat yang paling tepat untuk berinvestasi tahun ini.
Sampai kapan reksadana fixedincomeakan memberikan return terbaik?
Jadi, sebenarnya rekomendasi kami tidak hanya berdasarkan instrumennya saja. Rekomendasi kami didasarkan padaprofil risiko nasabah, ingin berapa lama holding period-nya, apa tujuannya. Saya bisaberikan contoh saya sendiri. Saya lebih suka membeli dan menyimpannya.Jika saya menyimpannya selama 10 tahun, 15 tahun otomatis saya akan mendapatkan hasil itu pada 10, 15 tahun ke depan dan itu akan menunjang kebutuhan saya sehari-hari. Keputusan itu tentu akan tergantung pada kebutuhan individu.
Spekulasi atas potensi kenaikan harga bisa terjadi bila BI mulai menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali di tahun ini. Sejalan dengan penurunan suku bunga The Fed sebanyak 75 basis poin, dengan skenario paling bullish 150 basis poin dari The Fed. Jika benar terjadi, dalam jangka waktu setahun, keuntungan akan sangat menarik. Namun kami tidak menyarankan untuk berspekulasi, tetap berinvestasi jangka panjang sesuai dengan profil kebutuhan dan risiko investor.
Reksa dana saham terlihat kurang menarik dari sisi return. Apakah disebabkan banyaknya IPO yang mendistraksi saham-saham blue chips di LQ45?
Saya pikir pasar saham Indonesia kita mempunyai banyak tantangan. Jika Andalihat kinerja 10 tahunatau 12 tahun terakhir, kinerja pasar saham kita berada di bawah pertumbuhan ekonomi kita yang mencapai 5%. Artinya pertumbuhan ekonomi tidak tercemin ke pasar saham. Sementara para investor di luar negeri memandang Indonesia sebagai pasar negara berkembangdengan pertumbuhan tinggi, sehingga mereka mengharapkan setidaknya tingkat return bisa sebesar 15%.
Tetapi jika Anda melihat periode 10 tahun terakhir, tingkat rata-rata returnsangat buruk setiap tahunnya, tidak ada satu tahun pun menghasilkan returndua digit, semuanya hanya satu digit, sebagian besar (saham) juga negatif. Bahkan termasuk saham yang tergabung dalam LQ45 yang merupakan saham-saham blue chip, paling likuid di Indonesia, bisa menjadi proksi perekonomian Indonesia, seharusnya berkinerja sangat baik, artinya return yang dihasilkan harus mencukupi. Namun kalau tidak salah return 10 tahun untuk LQ45 hanya 30% jadi kalau dikasih rata-rata hanya 2-3% per tahun. Itu alasan kenapa industri asuransi jadi bermasalah karena semua uangnya diinvestasikan di pasar saham, dan pasar saham tidak memberikan imbal hasil yang baik. Hal ini juga merupakan masalah yang kita alami di industri reksa dana. Dana ekuitas kami tidak tumbuh besar, sehingga nasabah tidak tertarik dengan pasar ekuitas,karena kinerjanya lemah selama 10 tahun terakhir. Yang jelas kita semua di pasar modal perlu mengatasi,mengapa pasar saham kita tidak berkinerja baik, dan bagaimana kita bisa meningkatkan kinerja,itu adalah isu nomor satu.
Baca Juga
Principal Asset Management Segera Luncurkan Tiga Produk Baru
Perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia terus bertambah, apa sisi positifnya?
Sebenarnya, kabar baiknya adalah jika semakin banyak perusahaan yang listing di bursa, berarti pasar modal semakin populer dan semua korporasi menggunakan pasar modal untuk menggalang dana.Semua itu adalah kabar baik, tidak perlu khawatir tentang hal itu.
Tapi kita perlu mengedukasi nasabah agar merekatidak semata melihat IHSG. Selama ini mereka hanya melihat IHSG, dan menilai kinerja saham (akan baik) jika IHSG berkinerja baik. Beberapa dari saham-saham di IHSG memang berkinerjasangat baik, tapi saham-saham yang dimiliki publik (free float)terlalu kecil sehingga tidak menguntungkan investor publik.
Ada begitu banyak perusahaan pialang, juga distributor digital, tetapi tidak ada yang membicarakan porsi saham beredar. Penting melihat di setiap emiten, berapa free float yang diperdagangkan secara publik, semakin banyak free float itu berarti realisasi harga ekuitasnya semakin baik. Jika free float-nya sangat kecil, realisasi harga tersebut mungkin tidak kuat, dan bisa jadi sangat tidak berkelanjutan.
Bagaimana Anda melihat pertumbuhan jumlah investor?
Pascacovid banyak partisipan (investor) ritel, tumbuh signifikan. Sekarang kita punya 12 juta SID. Itu juga mengubah dinamika pasar. Di masa lalu hanya investor institusi, investor asing,dan mereka adalah pemain besar yang selalu mengejar perusahaan berkualitas, blue chip.
Tetapisemakin banyak partisipasi ritel, termasuk aplikasi perdagangan saham digital, serta gencarnya media sosial telah berperan membentuk karakter spekulasi pada transaksi saham. Di masa lalupreferensi ritel adalah investor asing.Apa yang dibeli asing, mereka akan mengikuti.Tapi saat ini tidak ada yang peduli dengan pembelian asing.
Ada peran influencer dalam karakter spekulasi ini?
Itu adalah evolusi alami. Saya pikir begitu orang tahu cara menghasilkan uang, dan kehilangan uang, maka mereka akan menjadi matang dan akan kembali ke kualitas aset yang lebih baik. Ada banyak hal menarik yang dapat mengalihkan perhatian pasar, kita perlu fokus pada nilai dan kualitasnya.
Sebagai lembaga keuangan asing, kami tetap berkomitmen pada kualitas, oleh karena itu kami mencoba fokus pada return, yang disesuaikan dengan risiko. Yang sulit dilakukan dalam kondisi pasar saat ini, seperti yang Anda sebutkan (soal pengaruh para influencer, red) benar. Namun keindahannya adalah, di situlah letak nilainya, dan di situlah terdapat peluang jangka panjang, dan kita perlu menangkapnya.
Bagaimana mengajak para investor baruuntuk menilai aset dari fundamental?
Pertamaini adalah perkembangan yang baik (ketika jumlah investor ritel bertambah), karena terdapat begitu banyak energi, dan kemampuan yang dikerahkan untuk mendidik dan mempromosikan pasar modal.
Sekarang kita memiliki 12 juta nasabah.Saya mengapresiasi apa yang dilakukan teknologi, dandistributor, karena kita semua telah mencoba selama beberapa dekade dan kita tidak berhasil,jadi itu positif.
Sayangnya banyak orang yang tertarik masuk ke pasar modal dengan alasan yang salah. Mereka semua tertarik karena ingin menghasilkan uang dengan cepat, semua orang ingin menjadi Warren Buffet atau Elon Musk. Kabar baiknya, mereka baru mengeluarkan sedikit uang, jadi mereka sedang bereksperimen. Tapi apa pun yang mereka pelajari, ketika mereka menjadi matang, maka mereka akan berkembang menjadi investor yang benar.
Jadi ini adalah periode yang memang harus dilewati para investor baru?
Ya, investor baru tentunya akan melewati proses eksperimen dan pembelajaran yang bersifat evolusioner. Itu yang membuat mereka bertumbuh.
Jika saat ini media sosial menciptakan peluang spekulatif, kami Principal perlu memberikan peluang investasi berkualitas baik, sehingga kita perlu memberi alternatif cara berpikir (filosofi) kita. Kita perlu mengedukasi soal risiko dan memberi mereka peluang yang tepat. Ini tampaknya tak menarik bagi pasar, namun di situlah tantangannya.
Dulu kita mengedukasi semua orang soal apa itu reksa dana, apa itu saham, apa itu pasar modal. Saat ini kita perlu mengedukasi dengan cara yang berbeda. Mereka memang mempunyai pilihan, namun apa cara terbaik untuk mengelola risiko dan menghasilkan keuntungan yang baik, di situlah edukasi harus kita fokuskan.
Apa yang ditawarkan Principal AM pada nasabahnya?
Kami beroperasi dan memiliki kemampuan pengelolaan aset di seluruh dunia. Dan kami membawa kemampuan tersebut ke Indonesia, tidak hanya dalam pengelolaan investasi, tetapi juga produk dan solusi. Pada produk syariahkami diizinkan untuk berinvestasi seratus persen padaoff shore securities. Semua ilmu dan kemampuan serta produkkami bawa satu persatu ke Indonesia.
Tujuan kami sederhana, kita perlu memberi investor berbagai pilihan dan tema. Karena tidak semua investor menyukai tema tertentu. Orang yang berbeda akan menyukai tema investasi dan peluang investasi yang berbeda. Jadi, sebagai manajer investasi, tugas kami adalah menyediakan produk yang sesuai dengan berbagai peluang investasi dan bergantung pada minat dan kesesuaian yang akan dipilih.
Ada produk baru yang akan diluncurkan dalam waktu dekat?
Jadi kami sedang merancangnya. Kami sebenarnya sedang merancang tiga produk. Kami tidak ingin meluncurkan produk berbasis investasi lokal karena ada begitu banyak yang tersedia. Kami ingin mendatangkan produk syariah off shore salah satunya, kami berencana untuk menerbitkan ketika selera investor membaikuntuk berinvestasi pada ekuitas, khususnya ekuitas luar negeri.
Berapa AUM yang dikelola? Principal AM saat ini di peringkat berapa dari sisi AUM?
AUM reksa dana kami sebesar Rp 3,8 triliun pada akhir tahun 2023, dan kami ada di peringkat 27di industri reksa dana. Tapi aset kita lebih banyak di discretionary fund. Kami berupaya bisa tumbuh signifikan untuk lima tahun ke depan, dengan target pertumbuhansebesar 36%per tahun (CAGR). Memang tampaknya cukup menantang pada saat ini, mengingat seluruh industritumbuh nol persen pada tahun lalu.Sementara pada tahun ini kami memproyeksikan pertumbuhan AUM sebesar 46%.
Bagaimana cara mencapai target itu?
Kami di sini karena kamimemberikan valuekepada pelanggan, dan itutujuan utama kami. Jadi itulah area pertama dan di situlah kami mencurahkan banyak energi dan mencoba mengembangkan kemampuan khusus tersebut.
Yang kedua kita perlu membangun kemampuan distribusi. Kami juga memiliki bisnis institusional yang signifikan, dan kami melihat ada peluang besar di bisnis institusi. Tantangannya, nilainya terlihat bagus tetapi marginnya sedikit lebih. Kami ingin bekerja baik pada bisnis institusi maupun ritel sehingga kami memiliki perpaduan AUM dan margin yang tepat untuk mendukung bisnis kami.
Baca Juga
Principal® Tunjuk Naresh Krishnan Presiden Direktur di Indonesia
Ada saran bagi para Gen Z yang ingin memulai investasinya di Principal AM?
Rekomendasi kami kepada generasi muda sangat, sangat, sangat sederhana. Pertama-tama, Anda perlu mencoba. Ketika Anda berinvestasi pada usia tertentu, jumlah uang yang mereka miliki,tidaklah signifikan. Saya tidak ingin memberikan rekomendasi yang rumit, pendekatan buat mereka adalah, mereka harus mulai bereksperimen, artinya mereka perlu belajar. Tidak ada seorang pun yang memahami reksa dana, kecuali mereka membeli reksa dana. Mereka harus memulainya lebih awal.
Namun yang paling penting adalah tujuan berinvestasi. Lalu mulai membuat rencana dan perlahan-lahan membangun kemampuan berinvestasi.
Berikutnya Anda harus melakukan riset, jangan hanya karena ada yang menyampaikan sesuatu arahan lalu diikuti. Anda perlu memahami apakah hal tersebut masuk akal, apakah itu sesuai buat Anda.
Bicara tentang pasar reksa dana syariah, bagaimana Principal AM bisa membuat instrumendana syariah yang bisa tumbuh besar?
Produk syariah di industri reksa dana kita saat ini hanya 8%. Sebesar 4% dialokasikan di dalam negeri, 4% off shore. Pemerintah telah membuat peraturan yang ingin mendorong penjualan produk syariah. Jadi pemerintah telah membuat peraturan untuk membantu kami mempromosikan investasi syariah dan mereka mengizinkan kami berinvestasi 100% di luar negeri, asalkansesuai kaidah syariah.
Peluang tersedia dan itulah alasan sekarang kami bekerja sama dengan rekan-rekan kami di Malaysia dan membawa kemampuan mereka serta menginvestasikannya di seluruh wilayah. Jadi kami memiliki dua produk Reksa Dana Syariah Principal Islamic -ASEAN Equity Fund dan Reksa dana Principal Islamic Asia Pacific Equity Fund (USD), yang keduanya merupakan produk syariah. Tapi kuncinya adalah kita perlu membangun kemampuan fundamental dan memberikan Tingkat return yang sesuaidengan profil risiko nasabah.
Bagaimana dengan tren sustainability investment di Principal?
Principal dan CIMB berkomitmen terhadap keberlanjutandan tanggung jawab sosial. Kemampuan ini kami miliki di seluruh kantor Principal di dunia, dan kami membawa kemampuan tersebut ke pasar Indonesia. Sebenarnya, salah satu produk yang kami rencanakan akan bertemakan keberlanjutan dan tanggung-jawab sosial, mempertimbangkan peluang besar dan appetite masyarakat di tema tersebut.
Akan diluncurkan pada tahun ini?
Mudah-mudahan, kami sedang mengusahakannya.

