Orang Andalan Warren Buffet Sebut Kripto Sebagai Penganggu Sistem Keuangan
JAKARTA, Investortrust.id - Charlie Munger, Vice ChairmanBerkshire Hathaway yang juga mitra bisnis jangka panjang Warren Buffett, mengkritik tajam Bitcoin dan mata uang kripto lainnya dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan Wall Street Journal.
Investor berusia 99 tahun berkekayaan bersih mendekati US$3 miliar ini tidak bicara basa basi soal kelas aset digital, yang menurutnya merupakan inovasi keuangan yang merusak dan tidak produktif.
Baca Juga
Berkshire Hathaway Cetak Kenaikan Pendapatan Operasional 40,6%
Bahkan Munger menyamakan skema penggunaan dan distribusi Bitcoin dengan istilah melempar "stink ball" ke resep keuangan tradisional yang sudah teruji. Artinya ia berpendapat bahwa Bitcoin, sebagai mata uang digital yang relatif baru dan berbeda dari mata uang konvensional, telah mengganggu stabilitas dan keandalan sistem keuangan yang telah ada. Dengan kata lain, Munger merasa bahwa Bitcoin adalah elemen yang merusak dalam resep yang sudah teruji dalam dunia keuangan tradisional.
Munger menekankan pentingnya mata uang yang kuat dalam peralihan dari masyarakat primitif menjadi peradaban yang lebih maju. Mata uang apakah itu berbentuk mata kerang laut atau koin emas, kekokohannya selalu menjadi yang utama.
Baca Juga
Dianggap Tradisional, Warren Buffett Ternyata Punya 47,6% Saham AI
Munger dalam bahasanya yang menggunakan banyak kiasan, mengungkapkan keyakinannya bahwa Bitcoin, sebagai mata uang "buatan", mengganggu sistem keuangan yang selama ini melayani tujuannya dengan efektif.
Pernyataan Munger ini semakin menggambarkan tingkat alergi Berskhire Hathaway terhadap mata uang kripto. Sebelumnya ia meminta larangan total terhadap Bitcoin dan aset digital serupa, dan menyamakannya sebagai "kontrak perjudian" ketimbang investasi yang sah.
Perihal instrumen investasi yang ia nilai layak, Munger menyebut Reksa Dana Indeks sebagai instrumen yang telah membeirkan kepuasan kepada rata-rata investor.
Ia menganalogikan kemampuan investor ritel dalam memilih instrumen saham, yang sejatinya seperti seseorang tanpa keahlian yang ingin merancang peralatan rumah tangganya sendiri. “Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk memilih saham (secara) individual tanpa (mengetahui) keunggulan yang jelas,” ujarnya.

