Melonjak 180%, Market Cap Amman Mineral (AMMN) Dekati Telkom (TLKM)
JAKARTA, investortrust.id – Penguatan harga saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) masih berlanjut hingga perdagangan akhir pekan ini. Bahkan, harga sahamnya telah melesat dari Rp 1.695 pada listing perdana 7 Juli menjadi Rp 4.760 pada penutupan perdagangan saham Jumat (1/9/2023) atau melesat sebanyak 180,8%.
Berdasarkan data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham AMMN naik RP 220 (4,86%) ke level tertinggi baru sepanjang masa Rp 4.750140 pada Jumat (1/9/2023). Saham ini bergerak dalam rentang Rp 4.440-4.870.
Baca Juga
Harga Saham Emiten Migas Naik Dimotori MEDC, Ternyata Gara-gara Ini
Lompatan harga tersebut menjadikan kapitalisasi pasar (market cap) saham AMMN melesat menjadi Rp 341,59 triliun atau berada diperingkat lima mengalahkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan kapitalisasi pasar Rp 283,49 triliun. Bahkan, market cap AMMN kini mendekati PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) diperingkat empat denga nilai Rp 368,51 triliun.
Harga penutupan Rp 4.760 tersebut juga telah melampaui target harga saham yang ditetapkan Mandiri Sekuritas beberapa waktu lalu di level Rp 4.200. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2024 sekitar 16 kali.
Baca Juga
Saham Amman Mineral (AMMN) Melesat 144,83%, Tiga Pengendali Ini Raup Cuan Triliunan
Target tersebut juga mempertimbangkan proyeksi lonjakan laba bersih Amman Mineral (AMMN) menjadi US$ 1,25 miliar pada 2024 dibandingkan perkiraan tahun ini US$ 150 juta. Sedangkan EBITDA AMMN diprediksi melesat menjadi US$ 2,32 miliar pada 2024 dibandingkan estimasi tahun 2023 sebanyak US$ 697 juta.
AMMN melalui prospektus yang diterbitkan sebelum IPO saham menyebutkan bahwa perseroan mengembangkan dan membangun tambang Batu Hijau yang memproduksi konsentrat tembaga juga mengandung emas dan perak sejak tahun 2000.
Baca Juga
IHSG Awal September Melesat, Saham DMMX, MEDC, dan BRPT Terbang
Tahun 2016, perseroan mengakuissi 82,2% saham PT Newmont dengan pembayaran tunai US$ 1,47 miliar dan pembayaran kontinjensi US$ 658,39 juta, sehingga nama perseroan berumbah menjadi AMNT.
Perseroan menyebutkan bahwa penambangan bijih fase 8 akan dimulai pada 2025-2030 yang diharapkan berdampak positif terhadap lonjakan produksi tambang perseoran. Grup juga telah mengoptimalkan operasi penambangan, meningkatkan pr oduktivitas, menurunkan biaya, dan meningkatkan pemulihan logam dibandingkan dengan operasi tambang Batu Hijau di bawah kepemilikan sebelumnya.

