Bagikan

Ekspektasi Kenaikan Produksi dan Ekspor Batu Bara, Begini Prospek Saham Adaro Energy (ADRO)

JAKARTA, investortrust.id –  Prospek dan target saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) masih prospektif didukung kinerja keuangan semester I-2024 sudah sesuai estimasi. Hal ini ditopang lompatan volume produksi lampaui perkiraan, meski demikian penurunan rata-rata harga jual picu aba bersih turun.

DBS Sekuritas dalam risetnya merekomendasikan beli saham ADRO dengan target harga Rp 4.000. Target harga tersebut mempertimbangkan kinerja keuangan perseroan sudah sesuai estimasi semester I dan terbukanya peluang kenaikan harga batu bara memasuki kuartal akhir tahun ini. 

“Kami mengantisipasi kenaikan rata-rata harga jual batu bara pada kuartal IV dengan target lebih tinggi dari realisasi kuartal III tahun ini. Kenaikan tersebut memperkuat potensi laba bersih yang lebih tinggi paruh kedua tahun ini, dibandingkan paruh pertama 2024,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini. 

Baca Juga

Laba Atribusi Adaro Energy (ADRO) US$ 880,18, Manajemen Ungkap Fakta Kinerja Semester I-2024

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset)  memberikan pandangan positif terhadap aktivatas pertambangan batu bara nasional hingga Juli 2024. Total produksi batu bara Indonesia mencapai 451 juta ton atau naik 6% secara tahunan. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan yang stabil.

Research Analyst Mirae Asset Rizkia Darmawan mengatakan, realisasi produksi tersebut sudah merefleksikan 52% dari target rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) dan 67% dari target Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

“Produksi batu bara bulan Juli juga naik 10,5% secara bulanan menjadi 72 juta ton, pulih dari penurunan 8% Juni. Kenaikan didukung kondisi cuaca yang menguntungkan, produksi kuartal III-2024 diperkirakan akan tumbuh 6% secara kuartalan menjadi 213 juta ton,” kata catatan risetnya dikutip Jumat (30/8/2024).

Baca Juga

Saatnya Berburu Saham Adaro (ADRO), Ini Buktinya

Namun, Darma menekankan, pada musim hujan di kuartal IV-2024 dapat menyebabkan penurunan produksi batu bara Indonesia sebanyak 5% menjadi 203 juta ton.  “Berdasarkan perkiraan kami untuk semester II-2024, produksi batu bara nasional hingga akhir 2024 mencapai 820 juta ton. Angka tersebut 15% di atas target pemerintah dan 89% dari RKAB. Cuaca dan permintaan akan menjadi kunci untuk mencapai target ini,” terang dia.

Kenaikan produksi ditopang konsumsi batu bara domestik Indonesia sejalan dengan peningkatan penggunaan energi dan pertumbuhan kegiatan manufaktur, terutama di sektor hilir seperti pabrik peleburan nikel. Tren ini diharapkan terus berlanjut dengan konsumsi domestic diproyeksikan meningkat 12% secara tahunan menjadi 387 juta ton pada 2024, dibandingkan tahun 2023 sebanyak 345 juta ton.

Baca Juga

ESDM Ungkap Batu Bara Masih Punya Peran Mengisi Transisi Energi

Begitu juga dengan permintaan ekspor diantisipasi bertumbuh pada semester II-2024, sehingga ekspor batu bara tahun 2024 bisa meningkat  3% secara tahunan menjadi 418 juta ton. “Ke depan, target produksi agresif Indonesia dapat menyebabkan pertumbuhan pasokan melampaui permintaan, terutama dari China. Oleh karena itu lompatan yang signifikan tidak mungkin terjadi, dalam pandangan kami,” tuturnya.

Melihat faktor-faktor di atas, Mirae Asset mempertimbangkan untuk merevisi naik rekomendasi dan target harga saham Adaro Energy (ADRO). ADRO menjadi saham batu bara pilihan teratas didukung kinerja operasionalnya yang lebih kuat dan biaya tunai yang lebih rendah. 

Grafik Saham ADRO

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024