Bitcoin Diprediksi akan Menghadapi Tantangan dan Potensi Kenaikan di Kuartal 4 Tahun Ini
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) menyambut tahun 2024 dengan penuh optimisme, melesat lebih dari 40% di tengah upaya peluncuran dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat (AS) dan halving yang mengurangi pasokan Bitcoin baru ke pasar. Namun begitu, dalam satu kuartal terakhir Bitcoin menjadi fokus perhatian dari para investor dan trader.
Menurut Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur, berbeda dari siklus sebelumnya, harga Bitcoin di tahun ini sempat mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebelum halving. Namun, setelah 123 hari usai halving, harga Bitcoin belum mampu melampaui titik tertinggi sebelumnya, bahkan turun 13% dalam sebulan terakhir.
”Hal ini memicu perdebatan di kalangan pelaku pasar tentang kemungkinan reli di kuartal 4 tahun ini,” ujar dia, dalam keterangannya, Kamis (22/8/2024).
Ia melihat, meski siklus pasar saat ini mungkin memerlukan waktu lebih panjang dibanding siklus sebelumnya, tapi potensi bagi Bitcoin untuk mencapai rekor tertinggi baru masih sangat terbuka. Ia optimistis meski ada tantangan dalam melampaui level resistensi kunci, momentum positif yang sedang terbentuk akan mendorong Bitcoin menuju pencapaian nilai tertinggi dalam waktu dekat.
“Investor harus tetap waspada dan siap mengambil peluang, karena dinamika pasar dapat berubah dengan cepat dan membawa Bitcoin ke level baru yang lebih tinggi,” kata Fyqieh.
Baca Juga
Perkuat Regulasi, Bappebti Kasih Batas Pendaftaran Izin Pedagang Kripto hingga 16 Oktober 2024
Menurutnya, harga Bitcoin akan meningkat di kuartal 4 tahun ini. Didukung data dari CoinGlass yang mengungkapkan bahwa Bitcoin selalu mencatat imbal hasil positif pada kuartal 4 selama tahun-tahun halving, dengan keuntungan yang signifikan pada 2016 dan 2020.
“Selain itu, Bitcoin juga mencatatkan imbal hasil positif dalam delapan dari 11 tahun antara 2013 dan 2023, dengan rata-rata keuntungan sebesar 88%. Jika sejarah menjadi panduan, ada kemungkinan 73% bahwa Bitcoin akan menguat pada kuartal 4 2024,” ucap Fyqieh.
Lebih lanjut Fyqieh menganalisis siklus halving sebelumnya dan menemukan bahwa reli bull biasanya dimulai di kuartal 4. Menurutnya, harga Bitcoin saat ini berada dalam fase akumulasi, yang menunjukan potensi kenaikan usai memasuki kuartal terakhir 2024.
Baca Juga
Per Juli, Jumlah Transaksi Kripto di Indonesia Tembus Rp 344 Triliun dan Investor Capai 20,59 Juta
Risalah Rapat The Fed dari pertemuan Juli, lanjut Fyqieh, telah memperkuat spekulasi atas potensi penurunan suku bunga pada bulan September. Langkah ini telah memicu spekulasi atas reli sektor keuangan yang lebih luas, apalagi sektor kripto yang siap memperoleh keuntungan yang signifikan.
“Jika Bitcoin gagal menembus resistensi kunci ini, potensi penurunan ke level US$ 57.500 atau bahkan US$ 54.500 menjadi semakin nyata,” kata Fyqieh.

