Optimisme Ekonomi Indonesia Menghadapi Tantangan Geopolitik
JAKARTA, Investortrust.id - Kondisi perekonomian global yang belum pulih pascapandemi COVID-19 terus mengalami tantangan berupa perang Rusia-Ukraina dan konflik Hamas-Israel yang memicu kenaikan energi dan pangan.
“Harga energi dan pangan yang sejak 2022 memicu hiperinflasi, suku bunga tinggi, dan menghambat pemulihan ekonomi pascapandemi, kini perlahan mulai naik lagi,” kata Direktur Utama PT Investortrust Indonesia Sejahtera (IIS) Primus Dorimulu, saat gelaran The Best Investortrust Companies 2023, yang digelar di Hotel Artotel Suites Mangkuluhur, Jakarta, Selasa (31/10/2023).
Primus mengatakan, akibat kondisi geopolitik yang tak menentu, pertumbuhan ekonomi global 2023 yang sebelumnya diprediksi tumbuh 3% kini direvisi menjadi 2,9%, dan pada 2024 diperkirakan hanya tumbuh 2,8%.
Selain faktor geopolitik, ekonomi Indonesia juga terpengaruh oleh kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS). Keputusan Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee —FOMC) yang akan digelar besok, 1 November 2023 akan menjadi perhatian dunia.
“Apakah FOMC akan menaikkan lagi fed fund rate (FFR) yang saat ini di level 5,25%–5,50% dan sudah 11 kali di naikkan sejak tahun 2022?” ujar dia.
Primus menyebut kebijakan The Federal Reserve (The Fed) sudah menelan korban di banyak negara, khususnya emerging market seperti Indonesia. Akibat suku bunga yang sudah naik di level 5,25%-5,50% nilai rupiah merosot, suku bunga melonjak, dan harga saham rontok, serta yield obligasi meningkat.
Harga dolar AS yang pada Januari 2023 di level Rp 14.979, hari ini Rp 15.880, jauh di atas asumsi APBN tahun berjalan sebesar Rp 14.800.
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan BI7DRR sebesar 25 bps menjadi 6,00%. Suku bunga Deposit Facility sebesar dinaikkan 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%.
“Hampir tak ada selisih dengan FFR. Kondisi ini menyebabkan depresiasi rupiah tak terelakkan dan capital outflow tak terbendungkan,” kata dia.
Dalam catatan Primus, dalam hampir sepuluh bulan terakhir, IHSG melemah 1,44% dan hari ini, 31 Oktober 2023, year to date, investor asing membukukan net sell Rp 11,341 triliun. Di pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga terjadi net sell. Per 26 Oktober 2023, year to date, outflow dana asing dari SBN sebesar Rp 13,63 triliun.
“Kondisi ini menyebabkan posisi net buy SBN menurun,” kata dia.
Sementara itu, kata Primus, arus modal asing yang keluar dari SBN dipicu oleh yield T-Bonds bertenor 10 tahun di AS yang sudah mencapai 4,856%. “Bandingkan dengan yield SBN bertenor 10 tahun yang sebesar 7%” ujar dia.
“Ke depan, kondisi ekonomi masih belum menentu. Ketidakpastian yang sudah terjadi sejak 2022 atau pasca pandemi, masih akan terjadi hingga tahun 2024,” ucap dia.
Optimisme
Meskipun ekonomi dunia sedang dilanda pesimisme, Primus tetap menggaungkan optimisme bagi pelaku usaha. Dia berharap pesta demokrasi 2024 berjalan lancar.
“Kita berharap pemilu berjalan damai agar kegiatan bisnis dapat berjalan dengan baik dan biaya kampanye pilpres dan pileg berdampak besar terhadap belanja masyarakat,” ujar dia.
Primus mengatakan, sejak pilpres 2004, ekonomi selalu bertumbuh positif dan indeks harga saham gabungan (IHSG) selalu meningkat. Sudah terjadi “decoupling” antara ekonomi dan politik.
Primus memupuk optimisme lain karena Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan pada triwulan III 2023 sebesar US$ 7,8 miliar. Kondisi ini menopang prospek transaksi berjalan agar tetap sehat.
“Posisi cadangan devisa yang dikuasai BI pada akhir September 2023 sebesar US$ 134,9 miliar, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” ujar dia.
Primus memperkirakan neraca pembayaran Indonesia (NPI) tahun ini tetap baik dengan transaksi berjalan pada kisaran surplus 0,4% sampai dengan defisit 0,4% dari PDB. Pada 2024, NPI diperkirakan tetap terjaga didukung oleh prospek perekonomian domestik yang tetap baik.
“Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 diperkirakan di atas 5%. Pada kuartal kedua 2023, ekonomi Indonesia tumbuh 5,17%,yoy,” ujar dia.
Sementara itu, kata dia, inflasi terkendali sesuai sasaran. Pada September 2023, inflasi 2,28% yoy, turun dari inflasi bulan Agustus, 3,27%. Terjadi penurunan pada inflasi ini, tapi inflasi kelompok volatile food sebesar 3,62%, yoy, naik dri 2,42% sebulan sebelumnya.
Ketiga, suku bunga akan menurun, setidaknya mulai awal 2023. Bunga bank tidak mungkin terus-menerus mekar. Ketika suku bunga turun, dana akan mengalir ke pasar modal.
Keempat, di tengah suku bunga tinggi, jumlah pemodal ritel tetap besar. Pada Agustus 2023, jumlah investor individu di pasar modal 11,5 juta dan 57% di antaranya adalah investor zilenial mereka yang berusia di bawah 45.
“Jumlah investor individu lokal yang besar ini merupakan sumber kekuatan pasar modal Indonesia di saat investor asing menarik kembali dananya,” ujar dia.
Investortrust memberikan literasi
Pada gelaran istimewa ini, Primus juga mengenalkan Investortrust, sebuah media baru di bidang ekonomi, bisnis, finansial, dan khususnya investasi. Primus mengatakan pengelola news room Investortrust adalah para editor yang sudah berpengalaman di bidang ekonomi, bisnis, keuangan, dan investasi.
“Meski baru hadir di tengah publik 29 Agustus 2023, Investortrust langsung cepat dikenal oleh publik,” ujar dia.
Primus mengatakan Investortrust hadir untuk memberikan literasi finansial kepada masyarakat, khususnya para zilenial —millennial dan gen Z—, yakni mereka lahir sejak era 1980-an.
“Mereka yang disebut digital native,” ujar dia.
Primus mengatakan lewat financial literacy, mereka yang jumlahnya mencapai 145 juta atau sekitar 54% penduduk Indonesia, diharapkan menjadi generasi emas tahun 2045.
“Mereka harus dikawal agar memiliki pengetahuan dan keahlian dalam mengelola keuangan. Hanya dengan demikian, mereka mampu menjadi generasi emas, generasi yang mencapai financial freedom,” ujar dia. (CR-7)

