Terlalu Diremehkan! Segmen Non-Batubara Kekuatan Baru United Tractors (UNTR)
JAKARTA, investortrust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) menyimpan potensi raksasa di luar bisnis batu bara. Dengan harga saham UNTR saat ini, pasar masih menganggap remeh terhadap potensi besar sejumlah diversifikasi bisnis perseroan saat ini.
“Kami menilai bahwa pasar terlalu meremehkan kekuatan UNTR di luar sektor batu bara, khususnya produksi emas dan nikel. Hal ini terlihat dari penurunan harga saham UNTR dalam beberapa bulan terakhir,” tulis analis Sucor Sekuritas Yoga Gifari dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.
Baca Juga
Sedangkan penurunan harga jual batu bara dalam beberapa bulan terakhir, terang dia, menjadi faktor utama yang menyeret harga saham UNTR ke bawah. Padahal, segmen bisnis tambang emas dan nikel diprediksi menjadi jalan ke luar bagi perseroan dari tekanan segmen bisnis batu bara.
“Kami tetap memperkirakan tingkat laba bersih UNTR akan stabil berkisar Rp 18,7 triliun dalam lima tahun mendatang. Hal ini membuat valuasi saham UNTR saat ini sudah terlalu murah, sehingga saham ini layak direkomendasikan beli dengan target harga Rp 30.000 per saham,” tulisnya.
Estimasi Kinerja UNTR
Sumber: Sucor Sekuritas
Dari segmen bisnis produksi emas, dia mengatakan, perseroan membidik kenaikan volume produksi sebanyak 28% menjadi 300 kilo oz pada 2025. Hal ini didukung penyelesaian tailing storage facility di Martabe bersamaan dengan peluncuran produksi di Sumbawa Jutaraya.
“Dengan penurunan cash cost bersamaan dengan kenaikan harga jual emas, kami mengantisipasi lonjakan margin keuntungan segmen bisnis produksi emas. Bisnis ini diharapkan berkontribusi sebanyak 9% terhadap total pendapatan tahun 2025,” terangnya.
Baca Juga
Sedangkan dari segmen batu bara, Sucor Sekuritas menyebutkan, UNTR diprediksi secara bertahap menaikkan volume penjualan dari 12 juta ton pada 2023 menjadi 15 juta ton tahun 2026. Produksi batu bara termal diproyeksikan meningkat dari 7 juta ton menjadi 9 juta ton tahun 2026. Sedangkan produksi batu bara kokas diharapkan naik dari 2,5 juta ton menjadi 4 juta ton.
“Kami memperkirakan tingkat laba bersih dari segmen batu bara masih cenderung turun sampai 2026 akibat penurunan harga jual, namun penurunan tersebut akan dapat ditutupi dari segmen bisnis lainnya,” terangnya.
Grafik Saham UNTR

