Analis Sebut Harga Bitcoin Berpotensi Turun dalam Dua Bulan ke Depan
JAKARTA, investortrust.id - Berdasarkan pergerakan harga Bitcoin secara historis, Analis populer Rekt Capital memperkirakan penurunan harga Bitcoin dapat berlangsung selama dua bulan ke depan, sebelum pola grafik bullish baru yang mendorong kenaikan harga. Meski begitu, sebelum turun lebih lanjut, pasar kripto saat ini sedang mengalami rebound yang dinilai sesaat.
“Bitcoin telah kembali ke area range low, dengan ruang lingkup masih untuk deviasi penurunan tambahan dalam waktu dekat. Dan saat ini, sekitar 110 hari setelah halving, Bitcoin perlahan mendekati titik breakout historisnya, yakni 150-160 hari setelah halving,” tulisnya dalam postingan X, dilansir dari Cointelegraph, Kamis (8/8/2024).
Baca Juga
Harga Bitcoin sempat anjlok di bawah US$ 50.000 kemarin (5/8/2024), setelah Bank Sentral Jepang mengumumkan akan menaikan suku bunga acuannya dari 0% menjadi 0,25%.
Keputusan tersebut berdampak langsung pada pasar saham Amerika Serikat (AS) dan harga Bitcoin, karena para trader meminjam yen Jepang dengan suku bunga rendah untuk membeli aset di pasar AS.
Pasar kripto mengalami kerugian total kapitalisasi pasar sebesar US$ 510 miliar, menandai aksi jual terbesar yang dilakukan tiga hari belakangan, dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Meski prospeknya suram, pola grafik bullish yang muncul menginspirasi lebih banyak optimisme di kalangan investor kripto.
Baca Juga
Senator AS Raih 2.224 Surat Dukungan untuk RUU Cadangan Strategis Bitcoin
Sementara itu, analis populer Satoshi Flipper mengatakan, harga Bitcoin bisa mengalami kenaikan karena munculnya bull flag atau pola grafik bullish yang digunakan untuk melihat reli yang akan datang.
“Bendera bull paling epik dalam sejarah Bitcoin telah terbentuk selama tujuh bulan sekarang, bayangkan jika anda kesal dengan ini,” katanya.

