Meski Berpotensi Turun ke US$ 70.000, Analis Optimistis Siklus Bitcoin Berlanjut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Potensi penurunan harga Bitcoin (BTC) hingga level US$ 70.000 dinilai tidak serta-merta menandai dimulainya pasar bearish baru. Sejumlah analis menilai koreksi tersebut justru dapat menjadi bagian dari penyesuaian siklus makro yang lebih sehat bagi pergerakan jangka panjang aset kripto terbesar dunia itu.
Trader kripto Jackis menilai pelemahan harga Bitcoin saat ini merupakan bagian dari kisaran pergerakan makro untuk tahun 2025. Menurutnya, bahkan jika harga terkoreksi hingga US$70.000, kondisi tersebut berbeda dengan pasar bearish pada 2022 atau awal 2024.
“Penurunan kali ini tidak didorong oleh tekanan risk-off makroekonomi yang sistemik, melainkan oleh rotasi pasokan dari pemegang awal ke investor institusional,” ujar Jackis dilansir dari Cointelegraph, Kamis (18/12/2025).
Sementara itu, analis pasar Jelle menyoroti munculnya potensi divergensi bullish pada grafik Bitcoin periode tiga hari. Ia mencatat, pola serupa dalam siklus sebelumnya kerap bertepatan dengan terbentuknya titik terendah lokal, meski konfirmasi lanjutan masih membutuhkan waktu dan fase konsolidasi.
Baca Juga
Emas Dominasi Aset 'Safe Haven' 2025, Rasio Bitcoin terhadap Emas Anjlok 50%
Pandangan senada disampaikan Kepala Riset Makro Global Macro Investor, Julien Bittel. Ia merujuk pada data historis yang menunjukkan Bitcoin cenderung memasuki fase pemulihan setelah indikator Relative Strength Index (RSI) berada di area oversold di bawah level 30.
“Pembentukan dasar harga biasanya memerlukan waktu dan diiringi volatilitas yang cukup tinggi sebelum tren naik berlanjut secara berkelanjutan,” kata Bittel.
Bittel juga menilai bahwa siklus halving empat tahunan Bitcoin tidak lagi menjadi pendorong utama pergerakan harga. Ia menekankan bahwa dinamika likuiditas global dan siklus refinancing utang yang lebih panjang berpotensi membentuk struktur pasar baru yang dapat berlangsung hingga 2026.
Sementara itu, Direktur Global Macro Fidelity, Jurrien Timmer, memproyeksikan fase pergerakan Bitcoin saat ini sebagai bagian dari struktur siklus yang lebih panjang sejak 2022 hingga 2025. Ia mencatat, periode tersebut telah menghasilkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 105% dalam 145 minggu, sejalan dengan model regresi jangka panjang.
Baca Juga
Tekanan 'Whale' Belum Reda, Bitcoin Ambles ke Zona US$ 85.000-an
Meski membuka peluang koreksi lebih dalam ke kisaran US$ 65.000–US$ 75.000 pada 2026, Timmer menilai area tersebut berpotensi menjadi zona beli yang kuat. Dalam jangka panjang, ia memperkirakan siklus berikutnya akan bergerak dengan kemiringan yang lebih datar seiring meningkatnya tingkat adopsi Bitcoin, dengan potensi harga mencapai US$ 300.000 pada 2029.
Dengan demikian, koreksi harga Bitcoin saat ini dinilai lebih sebagai fase konsolidasi struktural ketimbang sinyal pembalikan tren jangka panjang.
Sementara itu, menilik data Coinmarketcap, harga Bitcoin (BTC) kembali melemah di tengah tekanan pasar kripto global. Bitcoin diperdagangkan di level US 86.098 pada perdagangan Kamis (18/12/2025) pagi waktu Asia, dengan koreksi 1,83% dalam 24 jam dan penurunan 6,40% secara mingguan.
Meski mengalami pelemahan harga, kapitalisasi pasar Bitcoin masih bertahan tinggi di kisaran US$ 1,71 triliun. Volume transaksi Bitcoin dalam 24 jam tercatat mencapai US$ 43,62 miliar, mencerminkan aktivitas perdagangan yang tetap solid meskipun sentimen pasar cenderung hati-hati.
Sementara itu, CoinMarketCap 20 Index (CMC20), indeks yang merepresentasikan pergerakan 20 aset kripto terbesar, tercatat berada di level US$ 180,22. Indeks ini menguat tipis 0,14% dalam satu jam terakhir, namun masih melemah 2,37% secara harian dan turun 8,25% dalam tujuh hari terakhir.
Kapitalisasi pasar CMC20 tercatat sebesar US$ 6,34 juta dengan volume perdagangan harian mencapai US$ 2,89 juta. Pelemahan indeks ini menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga merata pada aset kripto utama lainnya.

