Laba United Tractors (UNTR) Turun di Semester I-2024, Manajemen Ungkap Faktor Ini
JAKARTA, investortust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) kembali mencatatkan penurunan laba bersih sebanyak 15% pada semester I-2024 menjadi Rp 9,5 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 11,2 triliun.
Sekretaris Perusahaan United Tractors Sara Loebis menjelaskan, pengurangan laba bersih pada paruh pertama tahun ini, mengikuti penurunan pendapatan. “Ditambah dengan biaya keuangan yang lebih tinggi dan kerugian selisih kurs,” jelas Sara, dikutip pada Rabu (31/ 7/2024).
Dikutip dari laporan keuangan konsolidasi United Tractors (UNTR) semester I-2024 pendapatan bersih perusahaan turun 6% (yoy) menjadi Rp 64,5 triliun dari Rp 68,7 triliun di periode sama tahun lalu. Sara menambahkan, penurunan pendapatan disebabkan berkurangnya kinerja dari segmen mesin konstruksi dan pertambangan batu bara.
Baca Juga
Astra (ASII) Raup Laba Atribusi Rp 15,85 Triliun di Semester I-2024
Segmen usaha mesin konstruksi mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu, yakni 32% menjadi 2.147 unit dibandingkan tahun lalu yang sebanyak 3.145 unit.
“Berdasarkan riset pasar internal, Komatsu memimpin pangsa pasar penjualan alat berat sebesar 28%,” imbuh Sara.
Pendapatan perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat turun 10% menjadi Rp 5,4 triliun dari Rp 6 triliun pada perbandingan periode yang sama.
Penjualan Scania juga turun dari 449 unit menjadi 182 unit sedangkan penjualan produk UD Trucks turun dari 170 unit menjadi 82 unit. Manajemen mengaku, penurunan penjualan disebabkan berkurangnya permintaan, terutama di sektor pertambangan.
Secara keseluruhan, pendapatan unit usaha mesin konstruksi turun 23% menjadi Rp 15,6 triliun dibandingkan Rp 20,3 triliun pada periode sama tahun 2023.
Baca Juga
Pelemahan Rupiah Untungkan United Tractors (UNTR), Begini Rekomendasi dan Target Harga Sahamnya
Sementara itu, unit usaha perseroan di bidang kontraktor penambangan yang dijalankan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) membukukan pendapatan bersih Rp 27,9 triliun sampai Juni 2024, naik 15% (yoy).
PAMA mencatat peningkatan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) sebesar 13% dari 521 juta bank cubic meter (bcm) menjadi 590 juta bcm. Anak usaha UNTR juga menangani peningkatan volume produksi batu bara para kliennya, sebesar 18% (yoy) menjadi 70 juta ton, dengan rata-rata stripping ratio sebesar 8,5x atau turun dari 8,8x.
Di sisi lain, segmen usaha pertambangan batu bara yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung (TTA) mencatatkan kenaikan volume penjualan 17% (yoy) menjadi 7,5 juta ton. Namun pendapatan bersih segmen ini turun 23% (yoy) menjadi Rp 15,5 triliun karena turunnya rata-rata harga jual batu bara.
Baca Juga
Laba Astra (ASII) Semester I Berpotensi Lampaui Target, Ternyata Ini Penopangnya
Kemudian, usaha pertambangan emas dan mineral United Tractors mencatatkan peningkatan pendapatan 37% (yoy) menjadi Rp 4,4 triliun. “Sebagian besar disebabkan peningkatan harga jual rata-rata emas sebesar 17%, yakni dari US$ 1.935 per ons menjadi US$ 2.260 per ons,” jelas Sara.
Sedangkan segmen usaha industri konstruksi yang dijalankan PT Acset Indonusa Tbk (ACSET) membukukan kenaikan pendapatan bersih 39% (yoy) menjadi Rp 1,1 triliun. Namun perusahaan ini masih membukukan rugi bersih Rp 136 miliar, lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 55 miliar.
Grafik Saham UNTR

