Catat! Akhir Tahun Ini Garuda Bakal Kembali Untung
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), Irfan Setiaputra optimistis tahun depan Garuda sudah mampu mencetak keuntungan. Bahkan, ia yakin jika sejumlah aksi korporasi dapat diimplementasikan dalam dua bulan ke depan, emiten bersandi saham GIAA itu bisa membukukan laba bersih positif pada akhir 2023.
“Kami dengan cukup optimis bisa menyampaikan bahwa EBITDA Garuda sekarang positif, cash juga sudah surplus. Kalau kita ngomong neraca rugi-laba, ya mestinya tahun depan sudah oke (sudah untung). Malah tahun ini memungkinkan bisa membukukan laba,” ujar Irfan kepada investortrust.id di Jakarta, baru-baru ini.
Baca Juga
Eksekutif kelahiran Jakarta, 24 Oktober 1964 itu mengungkapkan, penyehatan Garuda Indonesia mulai membuahkan hasil. Salah satu indikasinya, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Garuda yang semula negatif, kini kembali positif. Arus kas yang awalnya defisit, sudah kembali surplus.
Irfan menjelaskan, jika sejumlah aksi korporasi Garuda dapat diimplementasikan dalam dua bulan ke depan, Garuda tahun ini sudah bisa mencatatkan keuntungan alias laba bersih positif. “Kalau lihat pembukuan, laba Garuda memang masih negatif. Tapi kami punya beberapa corporate actions yang akan membuat equity Garuda membaik, insyaallah,” tutur dia.
Garuda, menurut Irfan, berencana menggunakan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 73dalam laporan keangan 2023. PSAK 73 adalah standar akuntansi keuangan berdasarkan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) yang berlaku sejak 1 Januari 2020. PSAK ini menggantikan PSAK 30.
Baca Juga
Garuda Tak Lagi Mengejar Market Share, Ini yang Dikejarnya Sekarang!
“Kalau berbicara profitability, ini ada perlakuan akuntansi yang sedang kami lihat dan kami coba, yang akan membuat neraca keuangan kami lebih baik,” ucap dia.
Irfan Setiaputra menegaskan, penerapan PSAK 73 bukan praktik rekayasa laporan keuangan (financial engineering), melainkan praktik yang lazim berlaku secara global, bahkan dipersyaratkan dalam praktik akuntasi internasional. Meski demikian, ia masih akan mematangkan rencana tersebut. “Ini bukan financial engineering, tapi kami ingin lebih fair,” tegas dia.

