Harga Saham BBCA di Atas Rp 10.000 per Lembar, Mau Stock Split? Ini Jawab Bos BCA
JAKARTA, investortrust.id - Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA sudah kembali menembus Rp 10.000-an per lembar. Harga tersebut menurut Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja masih terjangkau. Sehingga perseroan belum akan melakukan aksi korporasi pecah saham alias stock split dalam waktu dekat.
Bahkan, kata Jahja, rencana stock split juga belum ada dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) di tahun depan. "Kami tegaskan tahun ini tidak ada stock split. Tahun depan juga belum ada kami bicarakan dalam RBB. Biasanya kalau akan kami lakukan, kami hitung-hitung dalam RBB," ujarnya dalam paparan kinerja semester I 2024, Rabu (24/7/2024).
Jahja menambahkan, berkaca dari sebelumnya, BCA pernah melakukan stock split pada tahun 2021 dengan rasio 1:5 (1 saham yang ada saat ini dipecah menjadi 5 saham baru) saat harga saham BBCA berada pada kisaran Rp 35.000 lalu menjadi Rp 7.000 per lembar. "Saat ini masih Rp 10.000, jadi rasanya saat ini belum diperlukan untuk lakukan stock split," katanya.
Sebelumnya dalam kesempatan berbeda, Jahja pernah menyebutkan, harga saham BBCA masih dibawah US$ 1 atau setara Rp 16.251 per dolar AS. Di sisi lain investor asing bisa dikatakan kurang berminat mengoleksi saham jika harga saham dikonversi dalam bentuk mata uang sen.
“Kalau bicara investor ritel adalah likuiditas di pasar. Kalau murah tapi tidak likuid repot juga. Antara buah simalakama. Saat ini masih in line dengan pemikiran kami masih terjangkau, untuk investor asing juga tidak terlalu kecil. Jadi belum ada pemikiran untuk kami stock split lagi,” katanya dalam talk show Pertumbuhan Berkelanjutan Ala BCA di YouTube Mirae Asset Sekuritas, Kamis (22/2/2024).
Baca Juga
Sebagai informasi, BCA mencetak rekor emiten perbankan paling banyak yang melaksanakan stock split. BCA terakhir pada 2021 melakukan aksi korporasi stock split dengan rasio 1:5. Ini merupakan stock split keempat kali yang dilakukan BCA semenjak melantai di Bursa pada tahun 2000 di harga Rp 1.400 per saham.
Stock split pertama kali yang dilakukan BCA yakni pada 15 Mei 2001 dengan rasio 1:2 sehingga nilai nominalnya turun dari Rp 500 menjadi Rp 250. Sehingga jumlah saham beredar naik dari 2,94 miliar saham menjadi 5,88 miliar saham. BCA kembali melakukan stock split pada 8 Juni 2004 dengan rasio 1:2 sehingga nominal kembali turun menjadi Rp 125 dan jumlah saham beredar naik menjadi 12,26 miliar saham.
Baca Juga
BCA Raup Laba Bersih Rp 26,9 Triliun di Semester I 2024, Tumbuh 11,1%
Lalu pada tahun 2008, BCA kembali memecah sahamnya dengan rasio yang sama yakni 1:2 sehingga nominal sahamnya menjadi Rp 62,5 dan jumlah saham beredar kembali naik menjadi 24,65 miliar saham.
"Aksi korporasi pemecahan saham tersebut dilandasi juga oleh komitmen BCA dalam mendukung perkembangan pasar modal Indonesia," ujar Jahja dalam keterangan resmi 23 September 2021 lalu.
Sementara menilik data perdagangan Rabu (24/4/2024) saham BBCA ditutup turun 100 poin atau 0,98% ke posisi Rp 10.075 per lembar. Adapun secara tahun berjalan, saham bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut sudah menguat 6,90%.

