Kripto Kecuali Ethereum Masih Betah di Zona Merah, Ini Biang Keladinya
JAKARTA, investortrust.id - Sebagian besar koin kripto berlanjut di zona merah dengan penurunan yang lebih dalam di pasar alternative coin (altcoin).
Volume perdagangan Bitcoin naik lebih dari 40% semalam, menunjukkan beberapa aksi sisi jual, sementara Indeks Ketakutan dan Keserakahan juga turun beberapa poin, meskipun masih menunjukkan keserakahan di kalangan investor.
Menilik data Coinmarketcap, pukul 07.00 WIB, Bitcoin (BTC) anjlok menjadi US$ 65.952, turun 2,40% selama 24 jam terakhir. Dominasi Bitcoin saat ini sebesar 54,18%, turun 0,48% sepanjang hari.
Tolok ukur kripto pasar luas, Indeks CoinDesk 20 turun 3%, dengan mata uang utama altcoin Solana (SOL), XRP (XRP) Ripple, dan Cardano (ADA) turun masing-masing 3,29%, 1,65%, dan 3,88%.
Ethereum (ETH) mengungguli sebagian besar aset, sebagian besar diperdagangkan datar sedikit di bawah US$ 3,500 atau menguat 1,24% dalam sehari. Penguatan didukung oleh dana yang diperdagangkan di bursa spot (ETF) yang tercatat di AS membukukan volume perdagangan yang kuat pada hari debutnya, Selasa (23/7/2024) kemarin.
Baca Juga
ETF Ethereum Spot Mulai Diperdagangkan, Harga ETH Balik Menguat
Kapitalisasi pasar kripto global adalah US$ 2,4 triliun, turun 1,63% dibandingkan hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 88,12 miliar, meningkat 1,03%.
Mengutip Coindesk, Rabu (24/72024) aset kripto melemah di tengah langkah Kraken yang mulai mendistribusikan aset kepada kreditor bursa Mt. Gox yang sudah tidak beroperasi, dengan potensi tekanan jual yang membebani pasar.
Aksi pasang harga pun terjadi ketika beberapa kreditur melaporkan menerima kripto mereka setelah 10 tahun menunggu. Distribusi BTC dan BCH senilai hampir US$ 9 miliar dalam waktu dekat telah menjadi sumber kekhawatiran utama bagi investor aset digital, memikirkan berapa banyak aset yang akan dijual kreditor di pasar terbuka untuk memanfaatkan apresiasi harga yang sangat besar. Harga kripto seringkali bereaksi negatif terhadap berita tentang transfer blockchain terkait Mt. Gox baru-baru ini.
Baca Juga
Jadi Kandidat Capres AS Gantikan Biden, Apakah Kamala Harris Pro Kripto?
Pekan Ini
Dengan perkembangan penting yang diantisipasi dalam waktu dekat, termasuk rilis laporan inflasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) pada Jumat (26/7/2024), Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha mengatakan, pasar kripto menunjukkan dinamika menarik. Indeks harga PCE diperkirakan turun dari 2,6% year on year (YoY) pada Mei menjadi 2,4% YoY pada Juni, terendah sejak Februari 2021. Indeks harga PCE inti juga diperkirakan turun 0,1 poin persentase menjadi 2,5% YoY pada Juni, terendah dalam tiga tahun terakhir.
“Pengumuman data PCE pada Jumat akan memberikan reaksi ke BTC , jika hasilnya sesuai atau lebih rendah dari ekspektasi pasar maka berpotensi akan mendorong BTC melampaui level resistance di US$ 69.000 untuk menuju ke US$ 69.000. Sementara jika angkanya di atas ekspektasi pasar maka potensi akan membawa BTC kembali turun ke support di US$ 64.000," kata Panji dalam risetnya dikutip Rabu (24/7/2024).
Mantan Presiden Donald Trump dijadwalkan memberikan pidato utama di Konferensi Bitcoin 2024 di Nashville pada 25-27 Juli. Adapun, Trump mungkin akan mengumumkan Bitcoin sebagai aset cadangan strategis AS.
"Menetapkan Bitcoin sebagai aset cadangan strategis akan memperkuat narasi 'emas digital' bagi Bitcoin dan meningkatkan stabilitas ekonomi. Keputusan ini dapat meningkatkan legitimasi Bitcoin, menarik investor baru, dan mendorong harga Bitcoin naik," ujar Panji.
Lebih lanjut, menurutnya prospek BTC pada akhir tahun berpotensi cerah didukung sentimen positif seperti inflasi AS yang terkendali, penurunan suku bunga oleh The Fed mulai September, dan kemungkinan kemenangan Trump pada pemilihan November. Berdasarkan data 2013-2023, BTC rata-rata naik lebih dari 80% di kuartal IV, sehingga besar kemungkinan BTC mencetak harga tertinggi baru melampaui US$ 75.000 dengan target sekitar US$ 90.000 - US$ 100.000 pada akhir tahun 2024.

