Dekade Tersulit Terlewati, Saatnya Saham HM Sampoerna (HMSP) Berjaya?
JAKARTA, investortrust.id – Periode dekade tersulit bagi PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) diprediksi mulai berakhir dan kebangkitan diharapkan menaungi kinerja hingga saham emiten rokok ini. Hal ini didukung ekspektasi kenaikan cukai rokok akan cenderung stabil dalam setelah beberapa tahun lalu naik signifikan.
Sucor Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, beberapa hari lalu, mengungkap bahwa rata-rata pertumbuhan pendapatan Perseroan turun menjadi 4% per tahun selama periode 2014-2023, dibandingkan periode 2006-2014 dengan tingkat pertumbuhan 13% per tahun.
Begitu juga dengan margin operasional HMSP tergerus menjadi rata-rata 14% pada 2014-2023, dibandingkan dengan rata-rata periode 2006-2013 sektiar 18%. Penurunan pendapatan dan margin dipengaruhi atas pandemi Covid-19 yang berakibat terhadap penurunan daya beli masyarakat.
Baca Juga
Lanjutkan Pertumbuhan, Begini Prospek dan Target Saham Terbaru HM Sampoerna (HMSP)
Penurunan tersebut juga dipengaruhi atas peralihan konsumen ke produk rokok lebih murah setelah terjadi lonjakan harga rokok perseroan dalam beberapa tahun terakhir untuk mengimbangi tingginya kenaikan cukai.
Estimasi Kinerja Keuangan HMSP
Sumber: Sucor Sekuritas
“Kami memperkirakan decade berikutnya bagi HMSP akan lebih baik, mengungkat peluang kenaikan pesat cukai rokok tak terjadi atau Kembali normal,” tulis analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo dalam riset tersebut.
HM Sampoerna (HMSP), terang dia, juga mulai memasuki peningkatan margin keuntungan setelah dilakukan kenaikan harga jual produk secara bertahap dengan rata-rata 1% yang bisa berimplikasi terhadap kenaikan pendapatan 10%.
Baca Juga
Didukung Mesin Pertumbuhan Baru, Berikut Prospek Saham HM Sampoerna (HMSP)
Dengan asumsi kenaikan cukai rokok stabil ke level sebelum pandemi sekitar 7,5% per tahun, dia mengatakan, perseroan bisa mengimbangi peningkatan tersebut dengan menaikkan harga jual, tanpa menggerus volume penjualan secara signifikan ke depan. Hal ini diharapkan mengembalikan margin keuntungan ke depan.
Selain ekspektasi kenaikan cukai melandai, dia mengatakan, produk rokok elektronik, IQOS, diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru. “Kami percaya IQOS jadi mesin pertumbuhan, karena stik IQOS jauh lebih murah, dibandingkan dengan harga batang rokok. Cukai untuk IQOS juga lebih rendah, dibandingkan rokok,” terangnya.
Niko menambahkan bahwa terjadi kecenderung penurunan jumlah perokok bakar dan beralik ke rokok elektrik. Hal ini diharapkan membuat produk tersebut akan diburu konsumen ke depan, sehingga bisa mengembalikan kecayaan HMSP ke depan.
Baca Juga
Perokok Ganti Merek Lebih Murah, Bos Bea Cukai: Jadi Masukan Tarif
Perseroan juga telah menginvestasikan dana besar untuk pengembangan produk baru untuk memperkuat dominasi HMSP di pasar domestic. Dinilai tak ada pabrik rokok lain yang bisa menginvestasikan dana sebesar itu untuk pengembangan pasa di dalam negeri.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rata-rata pertumbuhan tahunan laba HMPS dalam lima tahun mendatang sebanyak 18% menjadi Rp 17,5 triliun. Pertumbuhan tersebut mengasumkan rata-rata kenaikan harga jual produk sebanyak 10% per tahun dan margin operasional diharapkan meningkat bertahap dari 9% pada 2023 menjadi 12% dalam lima tahun mendatang.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham HMSP dengan target harga Rp 1.565. Target tersebut mengindikasikan perkriaan PE tahun ini sektiar 21,3 kali dan EV/EBITDA sebanyak 15,4 kali. “Kami menilai saham HMSP menunjukkan kesempatan baik bagi pemodal,” tulisnya.
Grafik Saham HMSP

