Ini Target Terbaru Saham Astra (ASII) Usai Masuknya BYD di Pasar Otomotif RI
JAKARTA, investortrust.id – Persaingan pasar otomotif kian sengit setelah BYD, pabrikan mobil listrik asal Cina merilis tiga model mobil Battery Electric Vehicle/BEV di pasar otomotif RI.
Tidak hanya itu, BYD berkomitmen untuk berinvestasi sebesar US$1,3 miliar di Indonesia, dengan proyeksi kapasitas produksi tahunan sebesar 150 ribu unit.
Pabrik Indonesia ini akan menjadi pabrik kedua di Asia Tenggara, setelah pabrik Thailand di Rayong yang mulai beroperasi pada tahun 2024 dengan kapasitas 150 unit per tahun.
Baca Juga
Penjualan Mobil Nasional Diprediksi Tumbuh, Bagaimana dengan Astra (ASII)?
Rencana besar BYD ini berpotensi menggerus pasar mobil berbasis BBM maupun hybrid, yang selama ini dikuasai pabrikan otomtif Jepang maupun Korea Selatan. Apalagi, menyusul BYD, merek otomotif asal Vietnam, VinFast, sedang merencanakan investasi sebesar US$ 1,2 miliar untuk membangun fasilitas produksi di Bekasi dengan potensi kapasitas produksi terpasang hingga 50 ribu unit per tahun.
Namun Tim Riset BNI Sekuritas punya analisis berbeda. Masuknya sejumlah pemain baru kendaraan BEV belum akan mampu menandingi penjualan model hybrid di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga
Bukan Mobil Listrik, Sentimen Negatif Saham Astra (ASII) Ternyata Ini
Untuk itu kami mempertahankan rekomendasi jangka waktu 3 bulan dan 12 bulan dengan overweight untuk sektor otomotif dengan saham PT Astra International Tbk (ASII) sebagai pilihan utama.
“Oleh karena itu, kami masih merekomendasikan buy saham ASII dengan target price Rp 7.100,” tulis Tim Riset BNI Sekuritas, dikutip, Sabtu (10/02/2024).
Target tersebut berlaku untuk periode 3 bulan hingga 12 bulan, karena BNI Sekuritas optimistis ASII dapat mempertahankan pangsa pasarnya di tengah gempuran model BEV.

