Penjualan Otomotif Direvisi Turun, Bagaimana dengan Prospek Keuangan dan Saham Astra (ASII)?
JAKARTA, investortrust.id – Penjualan otomotif kembali melemah hingga beraa di bawah estimasi hingga April 2024. Penurunan volume penjualan tersebut berpotensi menekan tingkat pendapatan dan laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) dari segmen otomotif hingga keuangan tahun ini.
Penurunan volume penjualan otomotif tersebut diprediksi berlanjut seiring dengan peningkatan risiko makro ekonomi bersamaan dengan tingkat suku bunga tinggi, apalagi setelah dilakukan kenaikan 25 bps BI Rate bulan lalu.
Hal ini menjadi salah satu pemicu utama penurunan volume penjualan mobil domestik sebanyak 23% menjadi 263 ribu hingga April 2024. Astra sendiri berkontribusi sebanyak 59.798 unit atau dengan pangsa pasar 74%. Penurunan permintaan juga membuat diskon pembelian mobil cenderung naik hingga mencapai level Rp 30 juta pada April, dibandingkan Maret sekitar 30 juta.
Baca Juga
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Rabu (15/5/2024), menyebutkan bahwa kondisi tersebut mendorong direvisi turun volume penjualan mobil ASII menjadi sekitar 473 ribu unit tahun ini atau lebih rendah 21% dari target awal dan penjualan sepeda motor menjadi 4,5 juta unit atau lebih rendah 6% dari target sebelumya.
Dengan target penjualan sebanyak 4,5 juta unit sepeda motor dan sebanyak 473 ribu unit mobil, maka terjadi penurunan sekitar 7% untuk penjualan sepeda motor dan sebanyak 16% untuk penjualan mobil tahun ini. Penurunan tersebut diperkirakan berimbas negatif terhadap performa keuangan sepanjang 2024.
“Meski angka penjualan mobil perseroan turun sejalan dengan penurunan permintaan pasar domestik, pangsa pasar ASII diperkirakan tetap stabil berada dalam elvel 55%. Perseroan diperkirakan tetap menjadi penguasa meskipun kompetisi pasar meningkat,” tulisnya.
Baca Juga
Terhempas Usai Cum Dividen, Simak Kembali Target Harga Astra International (ASII) Ini
Revisi turun volume penjualan otomotif tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas ikut merevisi turun kinerja keuangan perseroan tahun ini. Proyeksi laba bersih tahun ini direvisi turun dari Rp 31,41 triliun menjadi Rp 29,54 triliun. Keuntungan dari segmen otomotif direvisi turun dari semula Rp 11,26 triliun menjadi Rp 8,92 triliun dan segmen keuangan turun dari Rp 7,89 triliun menjadi Rp 7,42 triliun.
Sebaliknya laba bersih dari segmen agribisnis justru direvisi naik dari semula Rp 791 miliar menjadi Rp 820 miliar, IT direvisi naik dari Rp 113 miliar menjadi Rp 122, penjualan alat berat direvisi anik dari Rp 10,21 triliun menjadi Rp 10,94 triliun, dan segmen infrastruktur direvisi turun tipis dari Rp 1,07 triliun menjadi Rp 1 triliun.
Sejalan dengan kondisi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target harga saham ASII dari Rp 5.600 menjadi Rp 5.100 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Dengan harga saham ASII Rp 4.560, maka potensi cuan masih besar atas saham ini.
Grafik Saham ASII dalam 5 Tahun

