Didukung Aksi Tunggu Penurunan Suku Bunga, Wall Street Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Saham-saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, melesat tajam pada penutupan perdagangan saham Selasa (12/3). Sedangkan indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan tertinggi setelah terjadi lompatan harga saham saham Oracle (ORCL.N).
Dilansir dari reuters.com, saham Oracle melesat 11,7% dan mencapai rekor tertinggi baru. Lompatan tersebut terjadi setelah emiten tersebut melaporkan kinerja kuartalan dan memaparkan akan membuat pengumuman bersama dengan raksasa chip kecerdasan buatan Nvidia (NVDA.O).
Baca Juga
Laba Tumbuh Double Digit, Cek Target Harga Mitratel (MTEL) Terbaru Ini
Begitu juga dengan saham Nvidia naik 7,2% dan indeks semikonduktor (SOX) naik 2,1% dan menghentikan penurunan dua hari berturut-turut.
Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) naik 0,4% bulan lalu melanjutkan penguatan bulan sebelumnya 0,3%. Sebaliknya komponen makanan dan energi menunjukkan gejolak dengan harga konsumen meningkat 0,4% pada Februari melanjutkan kenaikan dari bulan Januari.
“Investor merasa nyaman dengan anggapan bahwa yang penting bukan kapan The Fed akan menurunkan suku bunganya, melainkan seberapa besar penurunan suku bunganya, dan penundaannya, baik itu terjadi di bulan Mei seperti yang diharapkan banyak orang pada awalnya atau di bulan September pada akhirnya tidak menjadi masalah,” ungkap wakil presiden senior dan penasihat Wealthspire Advisors Oliver Pursche, Rabu (13/3/2024).
Traders saat ini melihat peluang 70% penurunan suku bunga pertama pada Juni, menurut CME FedWatch Tool, dibandingkan 71% menjelang laporan inflasi.
Baca Juga
IHSG Bisa Uji ATH Baru, BRI Danareksa Sekuritas Jagokan LPPF dan EXCL
Adapun, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 235,74 poin, atau 0,61% menjadi 39.005,4. S&P 500 (.SPX) naik 57,3 poin, atau 1,12%, pada 5.175,24 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 246,36 poin, atau 1,54%, pada 16.265,64.
“Jika melihat data ekonomi, kondisinya cukup kuat. Dan dari sudut pandang saya sebagai konsumen, karyawan, dan investor, saya lebih memilih perekonomian yang kuat dan tingkat suku bunga yang sedikit lebih tinggi, dibandingkan perekonomian yang lemah dan memerlukan stimulus,” terang Pursche. (CR-4)

