Penerbitan Obligasi Korporasi Diprediksi Capai Rp 90 Triliun Semester II-2024
JAKARTA, investortrust.id – Nilai penerbitan surat utang atau obligasi korporasi diprediksi mencapai Rp 90 triliun di semester II-2024, seiring peningkatan jumlah penerbitan surat utang pada paruh pertama yang naik 33,29% secara year on year (yoy).
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan, penerbitan obligasi korporasi pada paruh kedua tahun ini akan lebih ramai dibandingkan periode sama tahun lalu.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto mengatakan, kenaikan tersebut dipengaruhi akumulasi nilai jatuh tempo surat utang perseroan yang juga tinggi pada semester kedua ini. Pasalnya, mayoritas total nilai surat utang korporasi di Indonesia sangat dipengaruhi jumlah obligasi yang jatuh tempo.
Baca Juga
Kapitalisasi Pasar Moncer, BSI (BRIS) Masuk Indeks PEFINDO i-Grade
“Perkiraan nilainya Rp 80 triliun – Rp 90 triliun untuk penerbitan (surat utang korporasi) di semester kedua ini. Mengingat, angka jatuh temponya saja ada di kisaran Rp 85 triliun. Jadi optimistis kurang lebih akan di kisaran angka itu,” jelas Suhindarto, baru-baru ini.
Secara garis besar atau dalam satu tahun penuh, Pefindo menghitung kebutuhan refinancing pada 2024 lebih tinggi dibanding tahun lalu. Hal ini terindikasi dari nilai surat utang yang jatuh tempo tahun ini sekitar Rp 150,5 triliun, lebih banyak daripada 2023 yang sebesar Rp 126,9 triliun.
“Di antaranya karena penerbitan tenor satu tahun cukup besar di tahun lalu,” imbuh Suhindarto.
Baca Juga
BJBR Kantongi Peringkat idA+ untuk Penerbitan Obligasi Subordinasi Rp 3 Triliun
Di sisi lain Pefindo optimistis, aktivitas sektor riil tahun ini terjaga dengan tingkat permintaan yang tetap kuat dan stabil. Keberadaan kampanye menjelang pemilu serentak menjadi dorongan untuk ekonomi tumbuh pada rentang 4,8-5,2% dan inflasi terjaga di rentang 2-3,5%.
Selanjutnya, kondisi wait and see dipercaya cenderung menurun karena kontestasi pemilu usai dan pasar menantikan rencana program, serta nama-nama yang akan mengisi pos kunci kementrian.
Korporasi juga dinilai dapat mengadaptasikan strateginya masing-masing untuk menghadapi kondisi suku bunga yang akan dipertahankan tinggi (higher for longer). Hal ini terlihat dari semakin maraknya penerbitan obligasi dengan tenor pendek.
“Kemudian likuiditas lembaga keuangan yang semakin ketat mendorong perusahaan mencari alternatif dana yang relatif murah, seperti obligasi korporasi, untuk mendukung leverage keuangan dan permintaan bisnis,” sambung Suhindarto.
Pefindo juga menilai, opsi pembiayaan di pasar domestik menjadi lebih menarik di tengah suku bunga ekstra tinggi di pasar internasional serta tekanan depresiasi. (CR-10)

