Simak Rekomendasi Saham Hari Ini PGAS, ESSA, SMGR, PANI, dan UNVR
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi melemah, dengan indeks diperkirakan bergerak di range 7.220-7.285. Pada perdagangan hari ini, Tim Riset InvestasiKu merekomendasi sejumlah saham layak dicermati investor, yakni Perusahaan Gas Negara (PGAS), ESSA Industries Indonesia (ESSA), Semen Indonesia (SMGR), Pratama Abadi Nusa Industri (PANI), dan Unilever Indonesia (UNVR).
“IHSG ditutup melemah tipis sebesar 0,03% ke level 7.250, setelah sebelumnya sempat melemah hingga ke 7.215. Investor asing mencatatkan aksi net sell tipis sebesar Rp 46 miliar di pasar reguler. Ini di tengah rilis data Keyakinan Konsumen RI yang terendah dalam 4 bulan,” kata analis Cheril Tanuwijaya membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Selasa (9/7/2024).
Baca Juga
Tertekan Pasar Ekuitas dan Aksi ‘Profit Taking’, Harga Emas Anjlok Lebih dari 1%
Secara sektoral, penguatan IHSG masih ditopang oleh sektor yang sensitif dengan suku bunga. Ini seperti properti, infrastruktur, dan teknologi. Indeks harga saham sektor infrastruktur menguat 1,55%, ditopang oleh saham-saham konstruksi BUMN karya yang menguat signifikan.
Penguatan itu disebabkan oleh berbagai sentimen positif yang menaungi saham BUMN karya. Misalnya, usulan penyertaan modal negara (PMN) 2025 yang lebih besar, untuk mendukung pembangunan proyek strategis nasional serta pembangunan berbagai proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN) yang lebih cepat dari target. Proyek tersebut dikerjakan oleh BUMN karya PTPP, ADHI, dan WIKA.
“Kami melihat dalam jangka pendek, sentimen positif untuk emiten konstruksi masih dapat berlanjut, meskipun risiko koreksi harga juga perlu diantisipasi,” ucap Head of Research Mega Capital Sekuritas ini.
Bursa Saham Global
Cheril juga menjelaskan perkembangan bursa saham global yang teronsolidasi kemarin waktu setempat. Investor mencermati perang dagang.
"Selain itu, investor mencermati perkiraan inflasi konsumen Amerika Serikat dalam waktu 1 tahun ke depan. Inflasinya tercatat kembali turun selama 2 bulan berturut-turut ke level 3% di Juni 2024 (Mei 3,2%)," paparnya.
Baca Juga
Pasar Cerna Dampak Badai Beryl, Harga Minyak Mentah AS Turun 1%
Di Asia, bursa saham Asia mayoritas melemah. Bahkan, indeks Shanghai terkoreksi ke level terendah sejak Februari 2024.
Hal itu disebabkan kekhawatiran pelaku pasar pada penerapan kenaikan tarif impor atas produk dari Tiongkok. Pasalnya, Uni Eropa juga telah efektif menaikkan tarif impor hingga 38% untuk kendaraan listrik asal Tiongkok, yang berlaku 4 Juli 2024 lalu.
Pelaku pasar khawatir akan aksi balasan dan memanasnya konflik perang dagang antara AS, Tiongkok, dan Eropa. Pelemahan harga saham tidak hanya terjadi di Asia, melainkan bursa Eropa juga kompak melemah.
"Selain kekhawatiran perang dagang, ketidakpastian politik turut menjadi sentimen negatif. Pasalnya, hasil pemilu putaran kedua di Prancis justru di luar perkiraan dengan tidak adanya partai mayoritas yang memenangkan suara rakyat," paparnya.

