Harga Bitcoin Mulai Bangkit, Analis Jelaskan Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin mulai pulih ke angka US$ 58.000,1 pada Minggu (7/7/2024), pukul 10.31 WIB, usai sebelumnya berada dalam titik terendah dalam tiga bulan terakhir yaitu US$ 56.634,77. Hal ini memberi sinyal bahwa para pedagang mulai mengatasi dampak negatif dari penggantian bitcoin senilai US$ 8 miliar dari Mt Gox dan aksi jual bitcoin yang baru-baru ini dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Jerman.
Melansir Cointelegraph, Minggu (7/7/2024), dalam 24 jam terakhir, para analis dan influencer kripto terkemuka telah berupaya untuk meminimalisir dampak Mt Gox dan aksi jual bitcoin oleh pemerintah AS dan Jerman terhadap prospek bullish jangka panjang bitcoin.
Salah satunya yakni pendiri dan CEO platform analitik on-chain CryptoQuant, Ki Young Ju yang meningkatkan para pedagang bahwa pemerintah memiliki kendali atas bitcoin senilai US$ 8 miliar, yang hanya 4% dari total US$ 225 miliar yang telah mengalir ke pasar bitcoin sejak 2023.
Baca Juga
Jika Donald Trump Menang Pilpres AS 2024, Harga Bitcoin Diprediksi Bisa Melonjak
Dengan kata lain, lanjutnya, pasar bitcoin memiliki likuiditas yang memadai untuk menyerap dampak aksi jual yang dilakukan, terutama di tengah kekhawatiran bahwa pemerintah Jerman akan menjual sisa kepemilikan bitcoin-nya sekitar 42.000 BTC.
Setali tiga uang, analis pasar independen, Trader Tardigrade menyamakan aksi jual pasar bitcoin saat ini dengan peristiwa black swan di masa lalu yang menyebabkan pemulihan tajam dan siklus kenaikan yang diperpajang
”Pada 2016, 2020, dan 2024, $BTC bergerak dalam pola yang sama. Selain tahun 2020, $BTC fakeout terlihat di bawah garis tren. Setelah kembali ke atas garis tren, bull run menyusul,” ujarnya.
Baca Juga
Sementara itu, Analis Rekt Capital berpendapat bahwa aksi jual pasar bitcoin saat ini merupakan bagian dari siklus umum yang terjadi usai peristiwa halving bitcoin. Dalam tren pasca halving ini, bitcoin sering mengalami penurunan harga yang signifikan selama beberapa bulan karena pasar menyesuaikan diri dengan dinamika pasokan baru.
“Namun, saat berkurangnya pasokan mulai mempengaruhi pasar, harga akan pulih dan seringkali memasuki tren kenaikan yang kuat karena pasokan jauh lebih rendah dan permintaan yang lebih tinggi mendorong harga naik,” katanya.

