Bursa CPO Ditargetkan Punya 100 Partisipan di Akhir 2024
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) menargetkan jumlah partisipan di bursa minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) bisa mencapai 100 pada akhir tahun ini. Bursa CPO yang diluncurkan pada Oktober 2023 lalu diharapkan dapat membawa kedaulatan perdagangan CPO di Indonesia.
“Saat ini ada 51 perusahaan yang bergabung dan yang aktif baru 16. Tahun ini targetnya bisa 100, Insya Allah bisa. Kami juga harapkan semuanya bisa aktif, buat apa jadi member tapi tidak aktif,” kata Direktur ICDX Nursalam dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/7/2024).
Untuk mendorong jumlah partisipan, Nursalam menyebutkan timnya akan berangkat ke Pontianak untuk bertemu para pelaku CPO disana. Hal ini dilakukan sebagai upaya masif lembaga tersebut dalam mensosialisasikan arti pentingnya Bursa CPO. Selain itu, sosialisasi yang digelar merupakan bagian dari peran ICDX sebagai Self Regulatory Organization (SRO) dalam perdagangan pasar fisik CPO.
“Kalau bicara transaksi fisik katakanlah belum menggembirakan, tapi saya tidak mengatakan saya pesimis dan tidak jalan, ini jalan, tapi semua butuh proses. Ini para pelaku masih mempersiapkan diri, karena ini hal baru. Untuk mengubah dari B2B masuk ke bursa juga tidak mudah, ia harus menyesuaikan dengan SOP, SDM, dan lainnya,” kata Nursalam.
Baca Juga
Dukung Perdagangan Pasar Fisik CPO, ICDX dan Bappebti Sosialisasikan Bursa CPO
Masih minimnya jumlah partisipan maka volume transaksi belum akan memadai, sehingga price discovery belum akan kredibel. Karenanya, ia juga berharap semakin banyak perusahaan yang bergabung sehingga price discovery bisa menjadi kredibel dan bisa menjadi acuan (price reference).
Apalagi tujuan dibentuknya Bursa CPO agar Indonesia memiliki harga acuannya sendiri. Namun, peluncuran ini bukan untuk berkompetisi Bursa CPO di Malaysia ataupun Belanda yang menjadi harga acuan dunia saat ini.
Ia berharap dengan pembentukan bursa CPO ini, patokan ekspor Indonesia berasal dari Bursa CPO. Maklum, sejak Juli 2013 harga settlement kontrak CPO ICDX telah digunakan dalam formula penetapan harga patokan ekspor (HPE) dengan pembobotan sebesar 60%, dan sisanya BMD 20% & CIF Rotterdam 20%.
Untuk bursa CPO, mekanisme transaksi dimulai dari jaminan transaksi atau jaminan dari penjual dan pembeli berupa cash atau surat berharga yang belum diserahkan ke Lembaga Kliring sebelum bertransaksi. Setelahnya berlanjut pada bid & offer, yang mana permintaan pembeli terdiri dari harga dan jumlah lot.
"Tiap 1 lot berisikan 25 ton CPO dengan tick size Rp 5 per kilogram," sebutnya.
Baca Juga
Perkuat Bursa CPO Indonesia, Kemendag Dorong Kolaborasi Pemangku Kepentingan Sawit
Setelahnya berlanjut pada trade allocation atau konfirmasi transaksi sebagai bukti ada transaksi yang sepadan, yang diterbitkan pada saat penutupan pasar atau T+0. Selanjutnya pembayaran yang dilakukan paling lambat T+2.
Lalu penyerahan CPO yang dilakukan T+15 dengan mutu CPO yang harus diserahkan oleh penjual, yakni FFA maksimal 5% dan M&I maksimal 0,5%. Baru kemudian berita acara serah terima (BAST) dan terakhir pembayaran oleh lembaga kliring.
Di sisi lain, Nursalam menyebut, sampai dengan perdagangan 10 Juni 2024 transaksi CPOTR atau CPO future di bursa CPO mencapai 13.359 lot. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.595 lot merupakan transaksi yang terjadi sepanjang perdagangan 1-10 Juni 2024.

