Harga Minyak Bullish Seiring Meningkatnya Ekspektasi Penurunan Suku Bunga
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak Selasa (2/7/2024) pagi ini terpantau bergerak pada tren bullish didukung oleh meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat. Selain itu, rilisnya data terbaru ekonomi Cina dan situasi di Timur Tengah yang masih memanas turut menjadi katalis positif bagi harga minyak.
"Harapan The Fed menurunkan suku bunga lebih cepat, yang diperkirakan pada bulan September mendatang, kian menguat pasca sektor manufaktur AS menunjukkan kontraksi selama tiga bulan berturut-turut pada bulan Juni, yang dipicu oleh penurunan minat investasi oleh produsen akibat kebijakan moneter saat ini dan kondisi lainnya," kata Ketua Komite Survei Bisnis Manufaktur ISM Timothy Fiore pada hari Senin dikutip dari riset ICDX, Selasa (2/7/2024).
Penurunan suku bunga akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi di negara konsumen minyak terbesar pertama dunia itu. Turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, aktivitas pabrik di Cina naik menjadi 51,8 pada bulan Juni dari 51,7 pada bulan sebelumnya, melampaui perkiraan pasar di 51,2 dan sekaligus menandai laju pertumbuhan tercepat sejak Mei 2021, ungkap survei PMI Caixin yang dirilis hari Senin.
Baca Juga
Hasil survei tersebut sangat kontras dengan laporan sebelumnya yang dirilis pekan lalu oleh Biro Statistik Nasional (NBS), namun ekonom Citi Grup optimis bahwa target PDB China 5% masih dapat dicapai tahun ini, meskipun dibutuhkan lebih banyak stimulus di sisa tahun lalu.
Sentimen positif lainnya datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas. Di Gaza, kelompok Hamas pada hari Senin dilaporkan menembakkan roket ke Israel selatan, sementara pasukan Israel telah bergerak lebih dalam ke beberapa bagian wilayah antara lain pinggiran kota Gaza dan kota Rafah bagian barat dan tengah.
Di Yaman, kelompok Houthi pada hari Senin mengatakan mereka telah menargetkan empat kapal di Laut Merah, Laut Arab dan Mediterania serta Samudera Hindia karena terhubung dengan AS, Inggris dan Israel.
Baca Juga
Sementara itu, impor minyak mentah Asia menurun selama paruh pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara total, Asia mengimpor 27,16 juta bph minyak mentah pada periode Januari hingga Juni, turun 130.000 bph dari 27,29 juta bph pada periode yang sama tahun 2023, menurut data yang dikumpulkan oleh LSEG Oil Research.
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 86 per barel. "Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 81 per barel," tulis riset.

