Harga Minyak Kembali Membara di Awal Pekan
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali pembukaan pekan pagi ini Senin (1/7/2024), harga minyak terpantau bergerak menguat didukung oleh sentimen dari eskalasi tensi di Gaza yang semakin memuncak dan potensi penurunan produksi minyak AS. Meski demikian, estimasi pemangkasan harga Aramco dan data ekonomi Cina yang suram membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Seorang pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, pada hari Sabtu (29/6/2024) mengatakan, tidak ada kemajuan dalam pembicaraan gencatan senjata di Gaza yang diupayakan oleh mediator Saudi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (30/6/2024) menegaskan kembali komitmennya untuk terus berjuang hingga tujuan untuk melenyapkan Hamas tercapai. Pasukan Israel dilaporkan telah maju lebih jauh pada hari Minggu ke distrik Shejaia di Gaza utara dan beberapa distrik di timur, barat dan tengah Rafah, dekat perbatasan dengan Mesir.
Baca Juga
Sentimen positif lainnya datang dari laporan Baker Hughes yang dirilis pekan lalu menunjukkan jumlah rig minyak turun 6 rig menjadi 479 rig, level terendah sejak Desember 2021. Laporan tersebut mengindikasikan potensi penurunan output minyak mentah AS di masa mendatang.
Sementara itu, perusahaan minyak negara Saudi Aramco diperkirakan akan kembali menurunkan harga jual resmi (OSP) minyak mentah untuk pengiriman bulan Agustus ke Asia sebesar 60 sen hingga 80 sen per barel, ungkap hasil survei yang dilakukan Reuters terhadap empat sumber kilang Asia pada hari Jumat. OSP Aramco biasanya dirilis sekitar tanggal lima setiap bulannya, dan menjadi tren harga bagi produsen Timur Tengah lainnya seperti Iran, Kuwait, dan Irak, yang secara total mempengaruhi pasokan minyak sekitar 9 juta bph menuju Asia.
Dari Cina dilaporkan bahwa aktivitas sektor manufaktur di negara konsumen minyak terbesar kedua itu turun untuk bulan kedua pada bulan Juni, sementara di sektor jasa merosot turun ke level terendah dalam lima bulan, ungkap data resmi yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) pada hari Minggu. Pelemahan di sektor manufaktur maupun non-manufaktur tersebut meningkatkan kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi Cina, yang berpotensi membuat permintaan minyak mentah ikut melemah.
Baca Juga
Exxon Mobil Bersiap Stop Kilang Perancis, Harga Minyak Kembali Menguat
Melihat dari sudut pandang teknis, menurut riset ICDX, Senin (1/7/2024) harga minyak berpotensi menemui posisi batas atas (resistance) terdekat di level US$ 84 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke batas bawah (support) terdekat di level US$ 79 per barel.
