Sinyal Perang Dagang Cina - UE Redupkan Harga Minyak Selasa Pagi
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak Selasa (25/6/2024) pagi ini terpantau bergerak terkoreksi bearish dibebani oleh sentimen dari masih kuatnya sinyal perang dagang antara Cina dengan UE, dan potensi The Fed untuk tidak menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Meski demikian, gangguan pasokan di Nigeria dan Rusia membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Sinyal potensi perang dagang antara Cina dan UE masih cukup kuat dilihat dari hasil pertemuan antara kedua belah pihak pada hari Senin (24/6/2024). Dalam pertemuan tersebut Cina mendesak UE untuk membatalkan rencana pengenaan bea impor sementara hingga 38,1% yang akan diberlakukan untuk kendaraan listrik buatan Cina pada tanggal 4 Juli mendatang, sementara pihak UE mengatakan akan menyelidiki tudingan terkait subsidi berlebihan, kutip surat kabar pemerintah Cina, Global Times, pada hari Senin.
Turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, Presiden Federal Reserve Bank San Francisco Mary Daly pada hari Senin mengisyaratkan bank sentral AS untuk tidak perlu menurunkan suku bunga sebelum pembuat kebijakan yakin bahwa inflasi menuju ke angka 2%. Penundaan penurunan suku bunga akan membuat biaya pinjaman lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, sehingga dapat menghambat pertumbuhan perekonomian, yang akan turut membuat permintaan minyak ikut melemah.
Baca Juga
Sementara itu, penutupan hampir 2.000 gerai bensin di timur laut Nigeria untuk memprotes operasi anti-penyelundupan yang menargetkan beberapa operator, kata Dahiru Buba, ketua Asosiasi Pemasar Minyak Independen Nigeria (IPMAN) pada hari Senin, memaksa warga untuk membeli dari pasar gelap. Berita tersebut memicu kekhawatiran dapat mendorong lonjakan permintaan bahan bakar, yang berujung pada kenaikan harga bahan bakar di negara produsen terbesar di Afrika tersebut.
Sentimen positif lainnya datang dari pernyataan Presiden Volodymyr Zelenskiy pada hari Senin yang mengatakan bahwa Ukraina sejauh ini telah berhasil menyerang lebih dari 30 fasilitas pengolahan dan penyimpanan minyak milik Rusia, meskipun ia tidak memberikan jangka waktunya. Serangan terbaru terjadi pada tanggal 21 Juni, di mana drone Ukraina menyerang empat kilang, termasuk kilang Ilsky, salah satu produsen bahan bakar utama di Rusia selatan.
Baca Juga
Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 83 per barel. "Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 79 per barel," tulis riset ICDX, Selasa (25/6/2024).

