Kualitas Aset dan Permodalan Bank Nasional Kuat, Saham BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BRIS Menarik!
JAKARTA, investortrust.id – Perbankan nasional memiliki kualitas aset yang bagus dan permodalan yang kuat guna menghadapai ketidapastian global. Hal ini menjadikan saham emiten bank, khususnya saham lima bank terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) layak dipertahankan beli.
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 11.300, saham ini menjadi pilihan teratas untuk saham perbankan nasional. Hal ini didukung CASA bank dengan kapitalisasi terbesar ini kuat.
Baca Juga
Perkuat Pengawasan dan Penanganan Permasalahan Perbankan, OJK Terbitkan POJK 5/2024
BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan beli saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 7.600, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.800, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 2.700.
“Meskipun terdapat ketidakpastian terkair prospek suku bunga, kami tetap memberikan prospek overweight saham emiten bank didukung kualitas aset dan permodalan yang kuat,” tulis analis BRI Danareksa Sekurtias Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, akhir pekan lalu.
Dengan kualitas aset yang baik dan permodalan yang kuat, bank-bank besar nasional seharusnya mampu menahan volalitilitas. Selain itu, ROE emiten bank juga kian menarik dengan ROE sebesar 17,5%.
Baca Juga
Terkait likuiditas perbankan nasional, dia mengatakan, peningkatan tensi geopolitik Timur Tengah turut mempengaruhi likuiditas perbankan domestic. CPI Amerika Serikat (AS) per Maret yang lebih tinggi juga ikut mendorong tingkat suku bunga tinggi diperkirakan berlanjut lebih lama, dibandingkan perkiraan semula.
Peluang berlanjutnya suku bunga tinggi AS juga didukung lonjakan yield obligasi AS bertenor 10 tahun menjadi 4,6%. Belum lagi pernyataan The Fed yang menyebutkan belum terlihat jelas inflasi kembali ke target bank sentral.
“Sejumlah faktor membuat berkurangnya kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Bank Indonesia pun diprediksi tetap mempertahankan suku bunga tinggi guna menjaga stabilitas, sehingga berimbas terhadap pengetatan likuiditas berlanjut,” terangnya.
Baca Juga
Bank Mandiri Pastikan Likuiditas Solid di Tengah Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Suku bunga tinggi ini menyerupai kejadian tahun 2014-2016 yang mendorong BI mempertahankan tingkat suku bunga tinggi lebih lama. Saat itu, BI mmepertahankan suku bunga tinggi tersebut dipengaruhi tekanan eksternal, depresiasi mata uang rupiah, kekhawatiran inflasi meningkat, dan deficit transaksi berjalan.
Kondisi tersebut berakibat terhadap BI rate bertahan di level yang tinggi selama 26 bulan. Kondisi tersebut berakibat terhadap penurunan harga saham-saham bank yang pesat, seperti BBCA anjlok 22%, BBRI sampai 36%, BMRI mencapai 37%, dan saham BBNI melemah 44%.
Baca Juga
OJK: Ketahanan Perbankan Nasional Kuat, Pelemahan Rupiah bisa Jadi Momentum Industri Domestik
Lalu, bagaiman dengan kondisi 2024? BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa kondisi serupa terhadap saham bank kemungkinan tidak terjadi. Apalagi ROE Bank saat ini masih tinggi dan kondisi inflasi masih terkendali mencapai 3%, dibandingkan tahun 2025 mencapai 8%.
“Kami percaya bahwa ROE perbankan tahun 2024-2025 akan tetap Tangguh didukung kualitasi aset yang bagus, normalisasi pertumbuhan PPOP, dan CAR yang lebih tinggi,” terangnya.
Prospek Saham Bank
Sumber: BRI Danareksa Sekuritas

