Mirae Asset Ramal IHSG Akan Balik ke Level 7.000 pada Agustus 2024
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) meramal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat kembali menyentuh level 7.000 pada bulan Agustus 2024.
Senior Investment Information Mirae Asset, Nafan Aji Gusta mengatakan, proyeksi tadi didorong oleh pergerakan IHSG secara historis selama 8 tahun kebelakang yang positif pada bulan Agustus.
Sementara itu, Mirae Asset memprediksi bahwa tahun ini, dalam skenario bullish secara teknikal IHSG dapat menyentuh level 7.455 pada kuartal IV 2024.
Nafan meyakini bahwa target tersebut dapat tercapai di bulan Oktober. “Sedangkan pada skenario bearish, IHSG ditargetkan mencapai level 6.650,” ungkap Nafan Aji Gusta di acara Media Day: June by Mirae Asset Sekuritas Kamis (20/6/2024).
Sementara itu, Nafan mengatakan bahwa saham yang masih bisa diakumulasi oleh investor saat ini terdiri dari; saham sektor basic, healthcare, technology, property, dan consumer non-cyclicals. Sementara, saham sektor perbankan memiliki potensi besar untuk kembali menguat. “Dia (saham perbankan) menopang penguatan indeks,” jelasnya.
Baca Juga
Pertajam Strategi Bisnis Ritel, Mirae Asset Angkat Tomi Taufan Jadi Direktur Baru
Lebih lanjut, Mirae Asset juga optimistis kondisi pasar saham di pertengahan tahun 2024 akan terbantu oleh kinerja keuangan emiten, seiring dengan musim pengumuman laporan keuangan emiten periode Juni sebulan ke depan.
“Secara teknikal, kami merekomendasikan BBCA, BRIS, BSDE, ELSA, INDF, KLBF, MDKA, MEDC, TBIG, dan UNVR, seiring dengan musim laporan keuangan bulan ini hingga bulan depan,” ujar Nafan.
Dia mengatakan hingga mendekati penghujung semester I-2024, kinerja pasar saham masih belum bergairah, dilihat dari posisi IHSG yang masih terkoreksi sekitar 7% dan keluarnya investor asing dari pasar saham (net foreign sell) di pasar reguler dan negosiasi senilai Rp 10 triliun, sejak awal tahun (di pasar reguler investor asing sudah net sell Rp 20 triliun).
Walaupun demikian, nilai transaksi di pasar saham sudah mencapai Rp 1.200 triliun, melampaui pencapaian semester I tahun 2023 sebesar Rp 1.180 triliun.
Baca Juga
Mirae Sebut Dua Sentimen Penting IHSG Pekan Ini, 3 Saham Jangan Sampai Lolos!
Sementara itu, memasuki triwulan kedua 2024, perekonomian global masih diliputi oleh ketidakpastian seperti kebijakan pemangkasan suku bunga oleb bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). Ketidakpastian ini bisa berdampak kepada likuiditas serta suku bunga perbankan.
Namun, Nafan meyakini bahwa dengan makroekonomi Indonesia yang kuat serta stabilitas politik yang terjaga meskipun tahun ini adalah tahun pemilu, setelah kondisi global lebih kondusif maka pasar saham dan pasar keuangan Indonesia juga dapat ikut bangkit.
Sementara itu terkait suku bunga, menurut dia BI akan menahan BI Rate pada level 6,25% karena jika suku bunga dinaikkan maka dampaknya kurang kondusif terhadap ekonomi dalam negeri.
“Namun, kami meyakini dengan makroekonomi yang kuat serta stabilitas politik yang lebih kondusif dibandingkan negara lain maka kinerja pasar keuangan dan pasar saham Indonesia akan tetap kuat,” tutur Nafan.

