Aksi Jual Saham GOTO Dipicu FCA? Berikut Analisanya
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) untuk pertama kalinya sepanjang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup di level gocap atau Rp 50 pada penutupan perdagangan Rabu (20/6/2024).
Pelemahan dipicu adanya panic selling sejumlah investor bersamaan dengan berlanjutnya aksi jual (net sell) oleh pemodal asing terhadap saham perusahaan teknologi terbesar di Indonesia ini. Berdasarkan data, volume antrean jual sangat besar mencapai 21,79 juta lot atau setara dengan Rp 108,98 miliar pada harga 50.
Sedangkan pada perdagangan saham, Kamis (20/6/2024), saham GOTO terpantau bergerak fluktuatif level Rp 50-51. Hingga pukul 09.30 WIB, antrean beli saham GOTO hampir 8 juta lot untuk harga Rp 50 dan antrean jual harga Rp 51 mencapai 10,5 juta lot.
Baca Juga
Saham GOTO Akhirnya Berhenti di Level Rp 50, Full Call Auction (FCA) Mengintai
Mengapa investor melepas saham GOTO pada hari pertama bertransaksi BEI setelah libur panjang Idul Adha?
Pelaku pasar menilai aksi jual tersebut dipengaruhi adanya spekulasi pasar terhadap aturan full periodic call auction (FCA) atau lelang berkala penuh akan melanda saham GOTO, sehingga harganya diprediksi melorot ke depan. Persepsi tersebut didasarkan penurunan kapitalisasi pasar PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) secara massif mencapai Rp700 triiun hanya dalam dua pekan perdagangan setelah FCA diterapkan.
"Ada kekhawatiran GOTO akan masuk ke FCA, sehingga harganya akan turun ke bawah Rp 50 dalam beberapa hari ke depan. Hal ini mendorong investor melepas dulu saham GOTO," ujar pelaku pasar yang minta dirahasiakan karena pendapatnya masih spekulasi.
Beberapa emiten yang telah menjadi korban FCA adalah PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), PT MNC Energy Investment Tbk (IATA), dan PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT). Saham-saham dilanda FCA secara historis terjun bebas hingga auto reject bawah berhari-hari.
Jauh dari FCA
Meski demikian Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis menilai, saham GOTO masih jauh dari saksi FCA, karena belum memenuhi syarat regulator. "Bahkan tidak memenuhi revisi aturan FCA yang sudah menjadi wacana dalam beberapa hari ini," ujar Azis.
Saat ini, BEI tengah mengevaluasi penerapan Papan Pemantauan Khusus tahap II (full periodic call auction). Surat BEI bernomor S-06178 BEI.PB1/06-2024 per 14 Juni 2024 sudah dikirim kepada semua emiten, otoritas, dan pelaku usaha, termasuk asosiasi untuk permintaan tanggapan.
Baca Juga
Berdasarkan surat itu, ada empat kriteria yang akan diubah yakni Kriteria Nomor 1, Nomor 6, Nomor 7 dan Nomor 10, dari total 11 kriteria yang dapat menjadikan suatu saham masuk dalam Papan Pemantauan Khusus.
Untuk kriteria nomor 1, syarat satu saham masuk PPK karena harga saham rata-rata kurang dari Rp 51 dalam 6 bulan terakhir. Ketentuan ini akan direvisi dengan memasukkan dua syarat yang mesti terpenuhi dua-duanya. Pertama, harga saham satu emiten dalam 3 bulan terakhir rata-rata kurang dari Rp 51 dan likuiditasnya rendah dengan nilai transaksi rata-rata harian kurang dari Rp 5 juta dan volume transaksi rata-rata harian saham kurang dari 10.000.
Saham di kategori ini bisa keluar dari PPK, jika sudah tidak memenuhi ketentuan masuk atau berhasil membagikan dividen tunai yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) selama harga paling kurang Rp 50, kecuali saham yang tercatat pada Papan Akselerasi. "Bila dilihat lebih jauh, sangat sulit saham GOTO terkena FCA," ujar Azis.
Baca Juga
Dia merinci bahwa dalam 3 bulan terakhir, 19 Maret-19 Juni, saham GOTO bergerak rata-rata di level Rp 63 atau jauh dari level di bawah Rp51. Berikutnya statistik BEI menunjukkan, selama sebulan, saham GOTO ditransaksikan Rp 3,97 triliun atau setara 1,54% dari total transaksi BEI. Jumlah itu jika dikali 20 hari bursa, rata-rata Rp 199 miliar/hari, jauh di atas syarat yakni minimal Rp 5 juta. Transaksi saham GOTO di Mei itu juga meningkat 53% dari April senilai Rp 2,59 triliun.
Dari sisi volume, saham GOTO selalu di urutan teratas saham dengan volume transaksi terbanyak. Selama Mei, saham GOTO diperdagangkan sebanyak 60,27 miliar saham atau setara 17,90% dari total saham di BEI. Jumlah itu jika dikali 20 hari bursa, rata-rata 3 miliar saham/hari. Jumlah volume saham GOTO juga naik 36,20% dari April sebanyak 44,25 miliar saham.
Berikutnya untuk Kriteria Nomor 6, suatu saham termasuk dalam kriteria ini adalah karena tidak memenuhi syarat tetap tercatat (saham free float) sesuai Peraturan Bursa Nomor I-A dan IV. Free float adalah istilah untuk saham yang beredar di publik.
Baca Juga
Penyesuaian yang baru untuk Kriteria Nomor 6 adalah ditambah ketentuannya, yakni tidak memenuhi syarat tetap tercatat (free float) sesuai Peraturan Bursa Nomor I-A dan I-V, kecuali ketentuan jumlah saham free float paling sedikit 50.000.000 saham untuk Papan Utama dan Papan Pengembangan, dan di atas 5% dari jumlah saham tercatat untuk Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Akselerasi.
Sebagai informasi, jumlah pemegang saham GOTO per Mei 2024 sebanyak 354.557 pihak, artinya sudah di atas syarat yang ditentukan, dengan jumlah saham beredar 1,20 triliun saham.
Terakhir, alasan suatu saham memenuhi Kriteria Nomor 10 adalah ada suspensi atau penghentian sementara perdagangan efek lebih dari 1 hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan.
"Sejak IPO hingga kini saham GOTO belum pernah disuspensi, sehingga syarat ini juga tidak masuk walaupun begitu investor juga harus melihat lebih lanjut sentimen yang ada yang bisa menjadi indikasi positif ataupun negatif bagi pergerakan saham goto," ujarnya.
Grafik Saham GOTO

