Dian Swastaika (DSSA) Melesat ARA hingga Jadi Emiten Market Cap Terbesar Sinarmas
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tiba-tiba melesat hingga auto reject atas (ARA) ke level tertinggi baru sepanjang masa pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (13/6/2024).
Saham DSSA melesat hingga ARA setelah naik Rp 41.000 (20%) ke level tertinggi baru sepanjang masa Rp 246.000. Kenaikan tersebut kian memperkuat posisi perusahaan yang dikendalikan Sinarmas ini sebagai saham termahal yang listing di BEI.
Baca Juga
Dian Swastatika (DSSA) Terbitkan Obligasi dan Sukuk Rp 1,5 Triliun, Kuponnya hingga 9%
Selain tercatat sebagai saham paling mahal, kapitalisasi pasar (market cap) DSSA mendadak melompat menjadi Rp 189,42 triliun. DSSA naik peringkat dari urutan 11 menjadi ke-9 untuk market cap di BEI. DSSA menyalip PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan kapitalisasi Rp 164,86 triliun dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp 180,95 triliun.
Tak hanya torehan tersebut, DSSA ternyata satu-satunya emiten yang menggenggam saham treasury bernilai jumbo mencapai Rp 37,91 triliun. Hal ini terlihat dari total saham trasury yang dikuasai sebanyak 154,10 juta saham DSSA atau setara dengan 20% dari modal ditempatkan dan di setor penuh.
Terkait penguatan harga saham DSSA sepanjang 2024 year to date (ytd) telah mencapai 166,9% dari Rp 80.000 menjadi Rp 246.000 per saham. Sedangkan dalam lima tahun, saham DSSA telah melesat mencapai 1.596,55% dari Rp 14.500 menjadi Rp 246.000.
Stock Split
DSSA merancang pemecahan nominal saham (stock split) dengan ratio 1:10. Nilai nominal saham yang dikendalikan Sinarmas ini akan dipecah dari Rp 250 menjadi Rp 25 per saham.
Stock split saham tersebut akan diwujudkan setelah mendapatkan restu pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar pada 25 Juni 2024. Sedangkan perdagangan saham dengan nominal baru di pasar reguler dan pasar negosiasi ditargetkan mulai 18 Juli 2024.
Baca Juga
Fakta DSSA: Saham Termahal, Pegang Treasuri Rp 21,88 Triliun, hingga Disuspensi BEI
Manajemen DSSA menambahkan bahwa stock split ini diharapkan meningkatkan minat investor untuk membeli saham perseroan, meingkatkan jumlah pemegang saham, meningkatkan likuiditas saham perseroan, dan mendukung pertumbuhan nilai perseroan ke depan.
Selain aksi tersebut, perseroan tengah memproses penerbitan obligasi berkelanjutan I Dian Swastatika Sentosa Tahap II tahun 2024 dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I DSSA Tahap II tahun 2024 dengan total Rp 1.5 triliun.
Grafik 5 Tahun Saham DSSA

