Papan Pemantauan Khusus BEI Hancurkan Harga 10 Saham Ini, Ada Emiten Hary Tanoe hingga Sinar Mas
JAKARTA, investortrust.id – Hampir seluruh saham emiten yang masuk papan pemantauan khusus dalam enam hari perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini terus-terusan tergerus. Penurunan dalam enam hari perdagangan sudah mencapai 44% setelah mencatatkan koreksi hingga auto reject bawah (ARB) enam hari beruntun.
Hal ini terlihat dari 10 saham yang masuk papan pemantauan khusus BEI terhitung sejak 31 Mei 2024. Sebanyak 10 saham tersebut masuk pemantauan khusus dengan kriteria 1, yaitu harga sahamnya ditransaksikan kurang dari Rp 51 dalam tiga bulan terakhir. Tak hanya 10 saham tersebut, seluruh saham lainnya yang masuk pemantauan khusus mengalami penurunan harga signifikan hingga membuat nilai aset investornya tergerus dalam.
Baca Juga
Jadi Korban Usai Masuk Papan Pemantauan Khusus, Manajemen MNC Asia (BHIT) Ungkap Fakta Ini
Berikut daftar 10 saham yang masuk papan pemantauan khusus terhitung sejak 31 Mei 2024, yaitu saham PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) yang dikendalikan Sinar Mas, PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT), PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV), dan PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP). Empat saham terakhir dikendalikan Hary Tanoesoedibjo, yaitu pengendali grup MNC.
Ada juga saham PT PT Nusa Palapa Gemilang Tbk (NPGF), PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk (ASHA), PT Black Diamond Resoruces Tbk (COAL), PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS), dan PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA).
Berdasarkan data perdagangan saham BEI, sebanyak 10 saham yang masuk papan pemantauan khusus terhitung sejak 31 Mei tersebut telah anjlok dari level terakhirnya Rp 50 menjadi Rp 28 pada penutupan kemarin atau telah terjadi penurunan dalam mencapai 44%.
Penurunan tersebut juga berimbas terhadap anjlokya kapitalisasi pasar sebanyak 10 emiten tersebut. Tak hanya itu, nilai dan volume transaksi saham-saham itu ikut anjlok ke level terendah baru sepanjang masa. Bahkan, kapitalisasi pasar (market cap) PIPA tersisa Rp 41 miliar usai kebijakan tersebut.
Masih Cetak Laba
Meski masuk papan pemantauan khusus, tak sedikit dari sejumlah saham yang masuk pemantauan khusus tersebut masih menunjukkan kinerja positif dengan torehkan laba bersih. Di antaranya, BHIT membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 157,89 miliar hingga Maret 2024 atau turun dari Rp 244,35 miliar pada kuartal I-2023.
Begitu juga dengan BCAP membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat menjadi Rp 34,77 miliar hingga Maret 2024, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 33,78 miliar. Sedangkan laba bersih per saham naik dari Rp 0,79 menjadi Rp 0,82 per saham.
Baca Juga
Jadi Sorotan Investor, BEI Bakal Kaji Ulang Papan Pemantauan Khusus
Kemudian ASHA justru mencatatkan lompatan laba bersih tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk dari Rp 7,14 miliar menjadi Rp 19,18 miliar hingga kuartal I-2024. Namun laba per saham turun dari Rp 1,59 menjadi Rp 0,004 per saham.
Emiten COAL juga masih mencatatkan laba bersih senilai Rp 38,36 miliar hingga akhir 2023 atau turun dari Rp 89,90 miliar pada 2022. Sedangkan laba per saham turun dari Rp 21,14 menjadi Rp 9,01 per saham.
Grafik 10 Saham Papan Pemantauan Khusus

