Benteng Api Technic Patok Harga IPO Rp 110, Begini Rencana Penggunaan Dananya
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan penyedia produk re-factory, PT Benteng Api Technic Tbk (BATR) menetapkan harga pelaksanaan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) Rp 110 per saham
Dalam hajatan ini, Perseroan menawarkan maksimal sebanyak 620 juta saham baru dengan nilai nominal Rp 20 per saham. Jumlah saham baru yang ditawarkan mewakili 20,5% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan setelah IPO.
Berdasarkan prospektus yang dikutip, Rabu (5/6), Perseroan berpotensi meraup dana hasil IPO maksimal Rp 68,20 miliar. Penawaran umum perdana saham atau offering BATR dilakukan sejak 3 Juni hingga 6 Juni 2024.
Baca Juga
Bakal Akuisisi 90,11% Inti Bangun (IBST), Sarana Menara (TOWR) Siapkan Tender Offer Saham
Aksi korporasi ini dibantu oleh PT KGI Sekuritas Indonesia sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek. KGI Sekuritas menyampaikan komitmen kesanggupan penuh (full commitment) terhadap seluruh saham yang ditawarkan dalam penawaran umum Perseroan.
Bersamaan dengan Penawaran Umum Perdana Saham, Perseroan mengadakan Program Alokasi Saham Karyawan (Employee Stock Allocation) dengan mengalokasikan saham sebanyak 6,2 juta saham biasa atas nama atau sebesar 1% dari jumlah Saham Yang Ditawarkan dalam Penawaran Umum Perdana Saham.
Perseroan juga menerbitkan Waran Seri I sebanyak 620 juta atau sebanyak 25,78% dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh pada saat Pernyataan Pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana disampaikan.
Baca Juga
Penjualan Naik 10%, Bukit Asam (PTBA) Bidik Produksi Batu Bara 41,3 Juta Ton 2024
Waran Seri I yang menyertai penerbitan Saham Baru adalah Efek yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk melakukan pembelian Saham Biasa Atas Nama yang bernilai nominal Rp20 setiap sahamnya dengan Harga Pelaksanaan sebesar Rp 300, sehingga seluruhnya sebesar Rp 186 miliar.
Rencananya dana hasil IPO sebesar 36,65% atau sekitar Rp 24,90 miliar akan digunakan untuk pembelian tanah dan bangunan dari pihak terafiliasi di Surabaya dan Gresik, Jawa Timur.
Sekitar 10,02% atau sebesar Rp 6,44 miliar untuk pembangunan dan perbaikan bangunan yaitu penyelesaian bangunan, sekitar 5,67% atau Rp 3,65 miliar untuk pembelian peralatan laboratorium baru.
Selanjutnya, sekitar 6,84% atau sebesar Rp 4,4 miliar untuk pembelian mesin produksi baru dan sisanya sekitar 38,82% akan digunakan sebagai Operational Expenditure (OPEX) berupa persediaan barang jadi dan bahan baku.
Terkait struktur pemegang saham, Perusahaan ini dikendalikan oleh Ridwan Sumadi yang sekaligus menjabat sebagai Direktur Utama Perseroan dengan kepemilikan saham 54,62%, kemudian Sugeng Riyadi selaku Komisaris Utama Perseroan sebanyak 22,88%, lalu Anwar Dianto menggenggam sebanyak 5% dan Ekadana Suryadi sebanyak 17,50%.

