BEI Ungkap Penyebab Bursa Karbon Masih Sepi Transaksi
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik menegaskan alasan masih sepinya bursa karbon, yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo, pada 26 September 2024.
Jeffrey beralasan, bursa karbon tidak bisa disamakan dengan bursa saham. “Kalau kita lihat di seluruh dunia, bursa karbon itu emang tidak bisa dibandingkan dengan bursa saham, jauh sekali,” kata Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (21/5/2024).
Jeffrey menegaskan dari negara seperti Korea, Hongkong, Malaysia, dan di mana pun, bursa karbon itu tidak akan seaktif bursa saham.
“Dan memang juga kalau teman-teman silahkan cek di bursa-bursa global, yang juga menyelenggarakan bursa karbon itu kontribusi dari bursa karbon terhadap total transaksi itu ya nol sekian persen, karena memang nature-nya berbeda,” terang dia.
Baca Juga
Bursa Karbon Masih Sepi Transaksi, OJK: ETS Eropa Butuh Waktu 15 Tahun
Di bursa saham sendiri, kata dia, motif para pelakunya itu bisa macam-macam. Bisa untuk investasi jangka panjang, bisa untuk hedging, maupun untuk spekulatif. Namun, tidak berlaku untuk perdagangan di bursa karbon.
Menurutnya ada yang memang hanya bertransaksi untuk memenuhi kewajiban, di mana itu hanya satu atau dua kali satu tahun. “Ada yang voluntary, itu pun ada yang dilakukan setahun sekali. Jadi memang secara alamiah, perdagangan di bursa karbon itu tidak akan bisa dibandingkan dengan di bursa saham,” tegas Jeffrey.
Sementara itu, dia bilang, perlu mengingat kembali kalau dari konstruksi perundang-undangan yang ada, bursa karbon adalah penyelenggara perdagangan di pasar sekunder. Jadi, ketersediaan unit karbon di pasar primer itu menjadi kewenangan pemerintah.
Baca Juga
“Kami juga akan menyelenggarakan yang kami sebut dengan net zero incubator. Itu kami lakukan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam lagi,” ujarnya.
Menurut dia, di dalam program net zero incubator akan terbagi dalam beberapa kelas yang membahas latar belakang sampai teknis perhitungan dari kontribusi emisi dari masing-masing korporasi.
Jeffrey berharap pemahaman lebih meningkat, kemudian juga kesadaran untuk memanfaatkan bursa karbon itu juga meningkat.

