Penjualan Tumbuh, Inocycle Technology (INOV) Tatap Optimistis Potensi Ekonomi Sirkular
JAKARTA, investortrust.id - Emiten daur ulang limbah, PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV) menerapkan strategi fokus pada potensi sektor ekonomi sirkular dalam mendorong pertumbuhan bisnis di masa datang.
Direktur INOV, Suhendra Setiadi mengklaim, pihaknya pionir dalam menerapkan konsep ekonomi sirkular, sehingga bisa menjadi modal penting menggarap sektor tersebut.
Terkait kinerja, Suhendra menyebut, INOV berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 4,4% (year on year/yoy) di kuartal I-2024.
Produk Recycled Polyester Staple Fiber (Re-PSF) menjadi penopang penjualan terbesar Perseroan. Produk ini dapat digunakan untuk memproduksi perlengkapan rumah tangga seperti bantal, selimut, dan bed cover.
Direktur INOV, Suhendra Setiadi mengatakan, pencapaian tersebut menunjukkan permintaan yang kuat dari pasar. Re-PSF merupakan salah satu produk utama yang mendapat respon positif dari pelanggan.
Baca Juga
Penjualan Naik, Inocycle Technology (INOV) Masih Rugi Rp 18,16 Miliar di Kuartal I
“Selain pasar domestik, kami juga melihat peningkatan yang signifikan pada penjualan ekspor. Hal ini mencerminkan upaya kami untuk memperluas bangsa pasar internasional dan memperkuat posisi kami di pasar global,” kata Suhendra pada paparan publik INOV secara daring, Rabu, (22/5/2024).
Suhendra menjelaskan, penjualan ekspor pada kuartal I-2024 naik hingga 20%. Sedangkan pada pos laba kotor terjadi penurunan dikarenakan harga jual Re-PSF.
“Sehingga harga jual RPSF di market dipengaruhi oleh demand dan supply dan faktor-faktor lain. Karena salah satunya adalah oil price. Jadi, hal-hal tersebut mempengaruhi harga jual kami,” ujar dia.
Baca Juga
Wall Street Tumbang Setelah Rilis Risalah The Fed, Dow Jones Anjlok 200 Poin
Sementara itu, Direktur INOV, Victor Choi mengatakan akan memanfaatkan pasar Polyester Staple Fiber (PSF) global yang diproyeksikan mencapai US$ 39,3 miliar pada tahun 2025.
“Pasar serat poliester daur ulang berkembang pesat, diproyeksikan akan mencapai US$ 39,3 miliar pada tahun 2025 dengan CAGR sebesar 6,3%." kata Direktur INOV, Victor Choi
Sejalan dengan prediksi tersebut, INOV telah menerapkan strategi dalam beberapa tahun terakhir telah menempatkan pada posisi yang kuat untuk memanfaatkan potensi tersebut.
Selain itu, Victor mengatakan, pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran akan isu-isu lingkungan dan permintaan akan produk ramah lingkungan, yang membuat perusahaan-perusahaan beralih ke bahan daur ulang, termasuk serat poliester.
“Serat-serat ini menawarkan solusi yang berkelanjutan dengan mengurangi penggunaan bahan baku baru, limbah, dan jejak karbon. Inovasi teknologi dalam proses daur ulang dan produksi serat poliester meningkatkan kualitas dan kinerja produk, sehingga dapat menarik minat konsumen dan produsen,” tutur dia.
Meskipun mengalami penurunan laba kotor secara tahunan, berkat margin yang lebih tinggi dari Recycled Polyester Staple Fiber (Re-PSF), serta manuver optimalisasi biaya yang diambil, INOV berhasil mencatatkan kenaikan laba kotor sebesar 4% secara kuartalan.
Perusahaan terus mempertahankan dan meningkatkan kapasitas produksinya yang saat ini sudah mencapai sebesar 40.000 ton per tahun.
INOV berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan daur ulangnya melalui fasilitas pencucian di Solo, Mojokerto, Medan, Makassar, dan Subang, serta pabrik Re-PSF di Tangerang, Solo, Mojokerto, dan Medan.
Penambahan fasilitas pencucian di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas 12.000 ton per tahun, dan pabrik re-PSF di Medan dengan kapasitas produksi 7.200 ton per tahun, semakin memperkuat posisi INOV di pasar. (CR-5)
Pergerakan Harga Saham INOV secara Ytd:

