Market Cap Tembus Rp 1.501 Triliun, Simak Fakta Barito Renewables (BREN) Ini
JAKARTA, investortrust.id – Kapitalisasi pasar (market cap) saham PT Barito Renewabels Energy Tbk (BREN) akhirnya menembus level Rp 1.501,74 triliun. BREN merupakan emiten pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berhasil tembus level tersebut.
Kenaikan market cap hingga mencapai level Rp 1.501,74 triliun tersebut didukung penguatan harga saham BREN Rp 100 (0,90%) menjadi Rp 11.250. Saham emiten Prajogo Pangestu ini berhasil bergerak dalam rentang Rp 11.025-11.450 pada perdagangan intraday sesi I di BEI, Rabu (22/5/2024).
Baca Juga
Saham Melesat 12 Kali Lipat, Manajemen Barito Renewables (BREN) Ungkap Faktor Ini
Dengan pencapaian tersebut, BREN kian jauh meninggalkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menempati urutan kedua untuk market cap terbesar di BEI bernilai Rp 1.164,94 triliun dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dengan market cap Rp 791,57 triliun.
Berikut sejumlah fakta terkait emiten BREN yang dikendalikan orang terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu ini.
Saham Melesat 1.342%
Barito Renewables (BREN) telah berhasil mencatatkan lompatan harga sebanyak 1.342% atau lebih dari 14 kali sejak listing di BEI merupakan emiten yang listing di BEI pada 9 Oktober 2023. Saham BREN dicatatkan di BEI dengan harga perdana Rp 780 per saham.
Lompatan harga saham BREN kian kencang setelah perusahaan investasi terbesar di dunia, BlackRock, memasukkan saham BREN dalam dua produk Exchange Traded Fund (ETF). Dua produk ETF Blackrock, iShares Global Clean Energy ETF (ICLN) dan iShares Global Clean Energy UCITS ETF (INRG), menjadikan saham BREN sebagai salah satu portofolio ETF tersebut.
Perseroan sebelumnya melepas sebanyak 4,01 miliar saham atau setara dengan 3% dari modal ditembatkan dan disetor penuh. Saham tersebut dilepas dengan harga penawaran Rp 780 per unit, sehingga total dana yang diraup dari aksi korporasi ini mencapai Rp 3,13 triliun.
Prospektus perseroan menyebutkan dana hasil IPO saham tersebut digunakan untuk membayar sebagian utang fasilitas B kepada Bangkok Bank Public Company Limited sebanyak-banyaknya US$ 158,58 juta.
Baca Juga
Penguatan Harga Berlanjut, Emiten Prajogo Pangestu Sumbang 20% Market Cap BEI
Dana IPO saham tersebut juga digunakan untuk memenuhi kewajiban pembayaran kepada Star Energi Oil & Gas Pte. Ltd. Rinciannya pembayaran kepada SEOG sebesar US$ 66,50 juta dan kepada perseroan sebesar US$ 6 juta.
Sedangkan bertindak sebagai pengendali saham BREN adalah Prajogo Pangestu melalui PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan kepemilikan 64,43% saham BREN, Green Energy 23,52%, Jupiter Tiger dan Prime Hill Fund 4,35%, dan sisanya masyarakat 3,35%.
Geothermal Terbesar
Barito Renewables merupakan emiten pengembang panas bumi (gothermal) dan tenaga angin terbesar di Indonesia. BREN melalui Star Energy tercatat sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia dan nomor lima di dunia dengan total kapasitas pembangkit mencapai 886 MW hingga kini. Pembangkit tersebut tediri atas PTLP Wayang Windu, PTLT Darajat, dan PTLP Salak.
Selain geothermal, Barito Renewables tercatat sebagai perusahaan pembangkit listrik tenaga angin terbesar di Indonesia dengan kapasitas 75 MW. Hal ini dilakukan setelah perseroan menuntaskan akuisisi sebanyak 99,99% saham PT UPC Sidrap Bayu Energy (Sidrap), yaitu perusaan pengembang pembangkit listrik tenaga angin di Sidrap dengan kapasitas pembangkit 75 MW.
Barito Renewables (BREN) yang diprakarsai Prajogo Pangestu ini mengoperasikan tiga pembangkit. Pertama, perseroan bertindak sebagai pemegang 90% saham Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd (SEGWWP) dengan kapasitas 230,5 MW. Perseroan juga bertindak sebagai pemegang masing-masing 76,11% saham Star Energy Geothermal Darajat I dan II dengan kapasitas 274,5 MW. BREN juga tercatat sebagai pemegang 76,11% saham Star Energy Geothermal Salak, Ltd dengan kapasitas 381 MW. Selain mengoperasikan tiga pembangkit listrik geothermal tersebut, BREN juga tengah membangun pembangkit listrik Salak Binary Plant dengan kapasitas 14 MW.
Bidik 1.200 MW
Sebelumnya, CEO Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan dalam laporan kinerja keuangan tahun 2023 menyebutkan bahwa perseroan berkomitmen untuk memasok energi panas bumi sebanyak 1.200 MW hingga tahu 2028. Komitmen tersebut sejalan dengan target Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan bauran EBT di masa depan.
Dia mengatakan, perseroan tengah melakukan sejumlah pengembangan aset panas bumi di area operasi Salak, Darajat, dan Wayang Windu dengan program retrofit maupun penambahan unit baru yang berpotensi meningkatkan kapasitas sebesar 116 MW dengan target mulai beroperasi tahun 2025 hingga 2027.
Penambahan kapasitas terpasang juga dilakukan melalui pengembangan lapangan panas bumi baru maupun akuisisi aset panas bumi baik di dalam maupun di luar negeri. Saat ini, anak usaha perseroan telah memiliki izin eksplorasi panas bumi di kawasan Gunung Hamiding, Provinsi Maluku Utara dan di Sekincau Selatan, Provinsi Lampung.
Laba Tumbuh 17,87%
Barito Renewables (BREN) berhasil membukukan kenaikan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 17,87% menjadi US$ 107,41 juta pada 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 91,12 juta.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan perusahaan yang dikendalikan Prajogo Pangestu ini sebesar 4,4% dari US$ 569,78 juta menjadi US$ 594,93 juta. Sedangkan beban keuangan melesat dari US$ 85,07 juta menjadi US$ 136,48 juta tahun 2023. Pendapatan bunga naik dari US$ 2,88 juta menjadi US$ 11,39 juta.
Baca Juga
Prajogo Pangestu, Konglomerat Pionir Bisnis Geothermal Terbesar
“Selain mencatat pertumbuhan kinerja keuangan, kami juga berhasil menuntaskan penawaran umum perdana (IPO) saham dengan raihan dana senilai US$ 200 juta dan mendiversifikasi portofolio di luar panas bumi melalui akuisisi aset pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB)," ujar Dirut BREN Hendra Soetjipto.
Sedangkan hingga kuartal I-2024, Barito Renewables (BREN) mencatatkan penurunan pendapatan dari US$ 147,08 juta menjadi US$ 145,41 juta. Penrunan tersebut menjadikan laba tahun berjalan BREN terkoreksi dari US$ 39,66 juta menjadi US$ 37,14 juta.

