Permintaan Semen Pulih, Saham SMGR dan INTP Pilihan Teratas
JAKARTA, investortrust.id – Permintaan pasar semen nasional diyakini mulai pulih seiring percepatan realisasi belanja pemerintah khususnya di sektor infrastruktur. Angin positif sektor semen juga ditopang oleh kondisi cuaca, di mana musim hujan yang terjadi relatif lebih kering, sehingga diyakini tidak mengganggu pengerjaan proyek properti dan infrastruktur.
Tim Riset BNI Sekuritas meramal, sepanjang tahun 2023 ada peluang permintaan semen meningkat 2% year on year (yoy) dari kontraksi sebesar -3,4% yoy pada tahun 2022. Recovery pasar semen diyakini ditopang oleh pertumbuhan bulk cement, dan tren ini diyakini akan bertahan di 2024 sampai 2025, bahkan di tengah tahun pemilu yang akan datang.
Permintaan substansial untuk semen curah akan didorong oleh pembangunan proyek-proyek strategis nasional (PSN) dan percepatan pembangunan di Ibukota Baru (IKN) pada tahun 2024. Sebaliknya, tim BNI Sekuritas mengantisipasi pemulihan yang lebih lambat untuk permintaan semen kantong.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melemah, Sektor Infrastruktur dan Teknologi Paling Melorot
Untuk BNI Sekuritas memperkirakan total volume semen akan tumbuh masing-masing sebesar 3,0% tahun 2023, lalu 3,9% tahun 2024 dan sebesar 4,9% yoy tahun 2025, di mana semen curah diperkirakan akan memberikan kontribusi pertumbuhan volume yang lebih tinggi sebesar 14,0% lalu, 8,1% dan 8,0% pada periode 2023, 2024 dan 2025.
Sokongan sentimen positif lain untuk sektor semen datang dari tren penaikan suku bunga yang diyakini sudah mencapai puncak. ‘’Untuk jangka panjang konsolidasi industri yang sedang berlangsung akan membawa perkembangan positif dalam dinamika pasar, terutama ketika dikombinasikan dengan penurunan tekanan biaya,’’ ulas Tim Riset BNI Sekuritas dalam ulasan yang dikutip, Senin (11/12/2023).
Terkat semua perhitungan tadi, BNI sekuritas menilai, saham sektor semen tetap undervalued dan mempertahankan rekomendasi overweight untuk periode 3 bulan hingga 12 bulan. Terlebih sektor semen telah tertinggal di belakang IHSG sejak tahun 2020 karena pertumbuhan volume yang kurang baik.
‘’Tim Research BNI Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk periode 3 dan 12 bulan, terutama saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dengan perkiraan dan target price berbasis DCF yang tidak berubah sebesar Rp 7.700 mengimplikasikan EV/EBITDA tahun 2024 sebesar 7,3 kali, yaitu -0,8 standar deviasi dari rata-rata lima tahun,’’ ulas BNI Sekuritas.
Aksi INTP
Selain SMGR, saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) juga patut menjadi perhatian, seiring langkah konsolidasi yang dilakukan.
Baca Juga
HUT ke-66, Pertamina Konsisten Membangun Ketahanan Energi dan Ekonomi Indonesia
Diketahui, INTP sedang bersiap menyelesaikan akuisisi atas 100% Saham Semen Grobogan. Dilaporkan bahwa Semen Grobogan memiliki pangsa pasar domestik sekitar 1,5%-2% pada tahun 2022.
Dengan asumsi pangsa pasar ini tetap stabil, pangsa pasar INTP diperkirakan meningkat menjadi hampir 30% pada tahun 2024, setelah akuisisi Semen Grobogan.
Konsolidasi ini juga akan meningkatkan pangsa pasar gabungan empat pemain teratas menjadi 95% pada tahun 2024 dari sebesat 86% pada 2022, memperkuat dinamika penetapan harga yang lebih sehat di pasar.

