Merger XL Axiata (EXCL) dan Smartfren (FREN) akan Turunkan Tarif Layanan? Cek Faktanya
JAKARTA, investortrust.id - Rencana merger atau penggabungan usaha PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) digadang-gadang akan melahirkan operator seluler ketiga terbesar di Tanah Air. Merger ini juga menciptakan operator dengan skala efisiensi yang lebih baik.
Mengutip riset CGS International pada Jumat (17/5/2024), operator seluler hasil merger XL Axiata dan Smartfren akan menghadirkan operator seluler ketiga terbesar di Indonesia. Operator seluler tersebut akan menghadirkan layanan yang jauh lebih baik dengan dukungan sumber daya setelah penggabungan.
"Menurut kami, operator seluler hasil merger akan memberikan kualitas layanan dan jaringan yang lebih baik, Smartfren bisa menggunakan spektrum frekuensi 800 MHz [megahertz] dan XL Axiata bisa menggunakan 2.300 MHz yang tidak dimiliki masing-masing sebelumnya," tulis CGS International dalam risetnya.
Baca Juga
Manajemen XL Axiata (EXCL) Angkat Bicara soal Rencana Merger dengan Smartfren (FREN)
Merger XL Axiata dan Smartfren juga akan melahirkan operator seluler yang jauh lebih efisien dari sisi biaya modal dan operasional. Biaya tersebut dapat ditekan yang tentunya akan berimbas pada kinerja perusahaan dan tarif layanan.
"Mengacu pada merger Indosat Ooredo [PT Indosat Tbk] dan Tri [PT Hutchison 3 Indonesia], estimasi biaya modal dan biaya operasional yang bisa dihemat [melalui merger XL Axiata dan Smartfren] mencapai 15% dalam 3-4 empat tahun," paparnya.
Riset CGS International menyebut efisiensi biaya modal maupun operasional tidak bisa terwujud dalam waktu singkat. Berkaca dari merger Indosat Ooredo dan Tri, pada tahun pertama operator seluler gabungan keduanya (Indosat Ooredoo Hutchison/IOH) fokus mensinergikan seluruh komponen biaya.
"Belajar dari merger Indosat Ooredo dan Tri, pada tahun pertama merger, entitas gabungan [IOH] fokus mensinergikan biaya yang harus dikeluarkan, alih-alih mengejar pangsa pasar yang lebih tinggi," jelasnya.
Untungkan Pelanggan
Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward menilai merger XL Axiata dan Smartfren berdampak positif bagi pelanggan kedua operator seluler. Mereka bisa menikmati kualitas jaringan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Spektrum frekuensi yang digunakan menjadi makin besar dan bisa dinikmati pelanggan dari keduanya [XL Axiata dan Smarftren]. Kualitas layanan menjadi lebih baik karena [spektrum frekuensi] makin luas," ujarnya ketika dihubungi oleh InvestorTrust pada Jumat (17/5/2024).
Baca Juga
Smartfren dan XL Axiata Merger, Begini Dampaknya bagi Target Saham EXCL
Sebagai catatan, XL Axiata mengoperasikan 45x2 MHz, dengan spektrum frekuensi 1,9 gigahertz (GHz) dan 2,1 GHz yang juga digunakan untuk jaringan 4G dan 5G secara bersamaan (spectrum sharing).
Sementara itu, Smartfren hanya mengoperasikan 11x2 MHz di spektrum frekuensi 800 MHz dan 40 MHz di pita 2,3 GHz untuk jaringan 4G. Jika merger terealisasi, maka spektrum frekuensi yang dikuasai oleh gabungan XL Axiata dan Smartfren kurang lebih 56x2 MHz ditambah dengan 40 MHz.
Sebagian dari spektrum gabungan XL Axiata dan Smartfren juga bisa dialokasikan untuk menggelar jaringan 5G. Tentunya, lagi-lagi pelanggan dari kedua operator seluler yang akan diuntungkan.
"Kalau sekarang spectrum sharing kan kualitas jaringannya belum begitu baik, masih tidak jauh berbeda dengan 4G. Nah, dengan adanya merger ini bisa dialokasikan spektrum khusus untuk menggelar layanan 5G," tuturnya.
Baca Juga
Sinar Mas dan Axiata Group Teken MoU Merger Smartfren (FREN) dan XL (EXCL)
Lebih lanjut, merger XL Axiata dan Smartfren juga akan menekan biaya modal dan operasional. Sebagai contoh adalah biaya untuk membangun stasiun pemancar atau Base Transceiver Station (BTS) dan melakukan fiberisasi antar-BTS.
"Masing-masing tinggal memanfaatkan yang sudah ada dan mengembangkan di lokasi yang memang belum dijangkau oleh keduanya sebelumnya. Fiberisasi juga bakal lebih murah karena tidak perlu masing-masing melakukannya, satu untuk berdua, jadi lebih efisien," paparnya.
Terkait dengan biaya layanan XL Axiata dan Smartfren pascamerger, menurut Ian semuanya ditentukan oleh penyedia layanan dan jumlah pelanggan. Jika jumlah pelanggan terus bertambah, bukan tidak mungkin biaya layanan bisa ditekan di kemudian hari.
"Kalau jumlah pelanggan bertambah, biaya layanan seharusnya bisa ditekan. Analoginya seperti dahulu internet seluler belum banyak pemakainya, harga paket [internet] terbilang mahal. Saat ini, pemakai makin banyak, harganya bisa lebih murah seperti sekarang," pungkasnya.
Respon Operator
Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys menyebut merger dengan XL Axiata akan berdampak positif bagi kinerja perusahaan. Sebab, pihaknya dapat memberikan layanan yang efisien dengan adanya aksi korporasi tersebut.
“Jadi sinergi ini kita harapkan menghasilkan kekuatan efisiensi yang luar biasa,” katanya ketika ditemui di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (17/5/2024).
Baca Juga
Merger XL Axiata (EXCL) dan Smartfren (FREN), Bagaimana Nasib Pekerja?
Ketika ditanya tentang biaya layanan pascamerger, Merza menyebut Smartfren saat ini sudah menawarkan layanan dengan biaya rendah. Dia mengklaim biaya layanan Smartfren adalah nomor empat termurah di dunia.
"Semuanya demi Indonesia yang lebih baik. Memang kita kurang murah? Kita itu nomor empat paling murah di dunia,” tegasnya.
Murahnya biaya layanan Smartfren tecermin dari angka pendapatan per pelanggan (Average Revenue Per Unit/ARPU). Pada 2023, pendapatan per pelanggan Smartfren tercatat sebesar Rp26.000 jauh lebih kecil dari XL Axiata di angka Rp43.000.
Sementara itu, XL Axiata enggan berkomentar lebih lanjut. Group Head Corporate Communications XL Axiata Reza Mirza menyebut pihaknya belum bisa memberikan informasi lebih lanjut terkait rencana merger dengan Smartfren. Sebab, aksi korporasi tersebut merupakan kesepakatan antara pemegang saham pengendali.
Baca Juga
Presdir Smartfren (FREN) Ngebet Merger dengan XL Axiata (EXCL)
“Tidak ada kepastian bahwa diskusi yang sedang berlangsung antara kedua belah pihak akan menghasilkan sebuah perjanjian yang akan menghasilkan sebuah perjanjian atau selesainya rencana transaksi,” katanya kepada InvestorTrust pada Kamis (16/5/2024).
Reza mengungkapkan langkah selanjutnya sehubungan dengan rencana merger XL Axiata dan Smartfren adalah uji tuntas, dan persiapan rencana bersama. Dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian dan perolehan persetujuan dari perusahaan dan segala regulasi yang terkait.
Seperti diketahui, pada Rabu (15/5/2024) telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) penjajakan merger XL Axiata dan Smartfren.
Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan oleh Axiata Group Bhd, PT Wahana Inti Nusantara (WIN), PT Global Nusa Data (GND), dan PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) untuk menjajaki merger dan pembentukan entitas bisnis baru MergeCo. WIN, GND, dan BMT merupakan entitas bisnis yang mewakili Grup Sinar Mas selaku pemegang kendali Smartfren.
Grafik EXCL dan FREN

